Minggu, 27 Maret 2011

Problematika PAI Di UAN-kan


Ada perubahan dalam pelaksanaan Ujian Nasional tahun  2011 ini, yaitu  acuan kelulusan siswa tidak hanya dari nilai UN, akan tetapi juga menggunakan unsur Ujian Sekolah (US) dan nila-inilai pada semester sebelumnya dengan menggunakan rasio 60 dan 40 untuk UN dan US. Hal lain yang berbeda adalah waktu pelaksanaan UN yang biasanya mendahului US, sekarang sebaliknya (Tribun Jabar, 11 Januari 2011).
Khusus pada mata pelajaran PAI, maka ada perubahan yang cukup signifikan, yang tadinya hanya sebagai UAS saja, sekarang sudah menjadi USBN atau Ujian  Sekolah Berstandar Nasional, dan konon ke depan akan menjadi bagian dari UN. Perubahan status ini secara otomatis menjadikan guru PAI harus siap-siap dengan berbagai kegiatan sebagaimana yang dilakukan oeh guru pelajaran yang di UNkan, seperti mengadakan pemantapan, pengayaan, try out dan lainnya.
Dan, tak mengherankan pula bila menjelang UN banyak acara doa bersama yang digelar di sekolah-sekolah. Dengan doa bersama tersebut, mereka berharap dapat lolos dari medan pertempuran UN dengan baik, dan ”sukses” mencapai target yang sudah di gadang-gadang sejak awal tahun ajaran baru.
Kembali ke PAI, alasan di USBNkannya PAI, konon adalah dalam rangka meningkatkan bargaining position (posisi tawar) PAI di sekolah khususnya, dan di masyarakat pada umumnya. Selama ini PAI dianggap sebagai pelajaran yang kurang begitu penting.
Dengan PAI menjadi USBN, maka pihak sekolah dan pihak lain yang terkait dengan pendidikan akan berupaya untuk lebih memperhatikan PAI, karena khawatir  nilai USBNnya rendah sehingga akan menjadikan citra buruk bagi sekolah dan dinas terkait.
Kalau kita mencoba untuk mencermati perubahan ini, maka ada dua  hal menarik dalam rencana PAI di UN-kan. Pertama, harus disadari bahwa ada karakteristik yang berbeda antara PAI dengan pelajaran yang selama ini di UN-kan. Pada pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan lainyya, penilaian aspek kognitif merupakan titik tekan utama, disamping aspek afeksi dan psikomotor.
Selama ini guru dan bahkan masyarakat merasa bahwa tidak ada kaitannya antara pelajaran-pelajaran  tersebut dengan moralitas, afeksi dan nilai-nilai spiritual, sehingga ketika alat ukur hasil akhirnya menggunakan ujian tertulis saja berupa UAN, maka tidak menjadi persoalan.
Akan tetapi berbeda halnya dengan PAI yang di dalamnya memuat hal yang bersifat keyakinan atau keimanan, akhlak, kejujuran, moralitas dan niali-nilai agama yang lainnya, maka alat ukur ujian tulis saja tidak akan cukup.
Keimanan kepada Tuhan,  sebagaimana diketahui bersama merupakan sesuatu yang abstrak yang berhubungan dengan hati nurani seorang manusia. Ukuran keberimanan seseorang adalah perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berkaitan dengan ibadah mahdhah (hubungan langsung dengan Allah) maupun ghair mahdhah (hubungan dengan sesama manusia). Keduanya sangat sulit untuk di ukur kalau hanya dengan menggunakan ujian tulis sebagaimana US. Inilah yang menjadi persoalan prinsip ketika hendak menjadikan PAI sebagai bagian dari UN.
Kedua, persoalan di lapangan, dimana sudah menjadi rahasia umum ketika akan menghadapi UN, maka pihak sekolah sampai dinas pendidikan sibuk untuk membuat ”tim sukses”.  Tim ini bertugas untuk mengurusi hal ihwal yang dapat memuluskan jalan agar target kelulusan tercapai. Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa yang terjadi dalam pelaksanaa UN  di beberapa tempat setiap tahun adalah kebocoran soal, jual-beli jawaban, pemanfaatan HP untuk mengirim jawaban soal UN dan pelanggaran lainnya. Kesemuanya merupakan perilaku menyimpang yang sangat ditentang oleh PAI.
Apa jadinya jika dalam pelaksanaannya nanti, nilai PAI yang diperoleh didapat dengan cara yang tidak benar sebagaimana disebutkan di atas. Sungguh sebuah kemunafikan yang luar biasa. Hanya untuk mengejar kelulusan dan harga diri sekolah, kemudian mengorbankan nilai-nilai luhur dan kejujuran yang diajarkan dalam PAI.
Dari problem-problem di atas, maka sudah seharusnya untuk dikaji ulang rencana PAI di UNkan. UAN sendiri sesungguhnya masih menjadi pro dan kontra. Dengan beragam argumentasi orang menyatakan pendapatnya, baik yang  pro maupun yang kontra.
            Sejatinya UN dan US merupakan ujian bagi guru. Ujian kejujuran dan keseriusan dalam mengusung moralitas. Melalui hasil UN dan US juga guru dapat mengevaluasi proses pembelajaran, apakah  telah mencapai tujuan atau tidak. Semoga kita mampu untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak didik kita, sehingga kelak mereka mampu menjadi generasi yang jujur dan memiliki integritas moral yang tinggi.

Oleh Abdul Wahid

Label:

Kamis, 03 Maret 2011

MENCIPTAKAN BUDAYA KEAGAMAAN DI SEKOLAH




            Secara normatif pendidikan diharapkan dapat memberi petunjuk bagi keberlangsungan kehidupan sesuai dengan tata nilai ideologis, agama dan kultur bangsa. Dan  secara material pendidikan seyogyanya da
pat memberikan pengetahuan yang memajukan dan mempertinggi kualitas hidup, baik dalam  kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun bernegara.
            Untuk dapat mewujudkannya dibutuhkan proses kreatif dan inovatif dari penyelenggara pedidikan. Kebanyakan praktik pendidikan menggunakan model belajar yang cenderung tradisional. Dalam proses pendidikan tradisional, pendidik selalu menganggap siswa  sebagai objek yang tidak memiliki  potensi apapun (impotensi akademik). Pendekatan pendidikan semacam  ini menyebabkan  anak tidak terbiasa menghadapi permasalahan yang muncul secara kritis.
Cara mengajar yang sekedar duduk di depan kelas sesungguhnya menjadi tanda kurangnya dinamisme sebagai seorang pendidik sejati. Bisa jadi ini hanya sebuah simbol dan tidak mewakili sosok guru seutuhnya secara keseluruhan. Jika demikian adanya, seakan jauh rasanya seorang guru dapat menciptakan pembelajaran yang produktif dan profesional. Padalah guru juga memiliki tanggungjawab dalam memodifikasi proses integrasi dan optimalisasi sistem pendidikan di sekolah.
Seharusnya yang dikembangkan adalah pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada active learning sehingga siswa terbiasa aktif dan terbiasa  untuk mencari pemecahan  dari masalah yang timbul.
Guru juga harus mampu menyampaikan pesan moral dan keyakinan agama atas sikap dan perilaku yang dilakukannya.  Artinya dalam setiap performance individualnya, guru harus dapat membawa pesan kepada anak didik untuk menyadari akan adanya dimensi moral dan agama dalam dinamika kehidupan ini.
Bagaimana dengan guru PAI yang sejak awal sudah menyandang predikat berpengetahuan agama yang tentu di dalamnya mengajarkan nilai dan moral yang baik yang berdasarkan tuntunan wahyu?
Peran guru PAI menjadi sangat penting dalam hal ini. Sebab pada dasarnya seorang guru PAI bukan hanya sekadar mengajarkan nash-nash ayat al-Qur’an, ataupun doktrin agama lainnya, tetapi lebih dari itu, Ia juga harus mampu menjadikan dirinya contoh untuk mengamalkannya dalam kehidupan kesehariannya sebagaimana diungkap dalam pepatah guru adalah digugu dan ditiru.
Secara formal PAI bertujuan untuk,  pertama, menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Kedua, mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama  dan berakhlak mulia  yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.
Guru PAI  di era globalisasi seperti saat ini perlu tampil sebagai pendidik, pengajar, pelatih, sekaligus inovator dan dinamisator secara  integral dalam mencerdaskan anak didiknya. Upaya meciptakan budaya keagamaan atau religious culture di sekolah adalah dalam rangka untuk mengamalkan ajaran dan nilai-nilai yang di ajarkan dan upaya mencari alternatif pemecahan persoalan banhgsa yang semakin karut marut..
Penciptaan religious culture dapat dilakukan dengan mengadakan  berbagai aktivitas keagamaan, seperti sholat berjamaah, mengucapkan salam dan tadarus al-Qur’an.
Budaya keagamaan merupakan kebiasaan yang dilakukan secara rutin dan spontan dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan pelaksanaan nila-inilai agama dan  moral. Kemampuan guru PAI untuk mampu meyakinkan seluruh civitas akademika di lembaga pendidikan, terutama kepala sekolah, akan pentingnya budaya keagamaan adalah kuncinya. Ketika seorang kepala sekolah sebagai pemegang kebijakan sekaligus penanggung jawab di sekolah sudah memiliki komitmen yang sama dalam menciptakan budaya keagamaan, maka dalam pelaksanannya akan lebih mudah.
Kegiatan berupa membaca al-Qur’an ketika memulai pelajaran dan menutup kegiatan belajar dengan membaca asma’ul husna, membiasakan salam dan sapa antara siswa dan guru ataupun siswa dengan siswa, sholat dzuhur dan jum’atan berjamaah di sekolah, peringatan hari besar keagamaan dan penggunaan baju muslimah bagi siswi yang muslim dan lain sebagainya. Semuanya itu merupakan kegiatan sederhana  yang sesungguhnya memiliki dampak yang positip dalam menciptakann sense of religious siswa.
Kesadaran semua pihak, bukan hanya guru agama, bahwa pembiasaan perilaku keagamaan di sekolah merupakan  alternatif jawaban dari berbagai persoalan bangsa ini sangatlah dibutuhkan. 
 Oleh Abdul Wahid

Label:

Minggu, 13 Februari 2011

Memaknai Maulid Nabi


Setiap memasuki bulan rabi’ul awal, bulan ketiga dalam kalender Hijriyah,  sebagian besar umat muslim di seluruh dunia mengagendakan satu aktivitas keagamaan yang bernama peringatan maulid nabi Muhammad SAW.
Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, penutup para Nabi yang paling sempurna dari seluruh mahluk Allah SWT. dan kekasih Tuhan.
Muhammad  dilahirkan tepat pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah atau bertepatan dengan 22 April tahun 571 Masehi. Nabi  Muhammad yang penuh berkah ini dilahirkan di sebuah kota yang bernama Makkah di jazirah Arabia. Di kota suci tersebut, terdapat Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, bapak agama monoteisme (agama yang meyakini satu Tuhan) dan leluhur bangsa Arab serta Yahudi beserta putranya Ismail a.s..
Jarak waktu yang sangat panjang antara generasi Ibrahim  dengan dilahirkannya Muhammad, menjadikan masyarakat Arab ketika itu mengalami perubahan keyakinan yang sangat mencolok. Hal ini dibuktikan dengan kondisi menjelang kelahiran Muhammad, masyarakat Makah dan Arab pada umumnya  berubah menjadi penganut polytheisme  (meyakini beberapa Tuhan),  dari yang tadinya monotheisme (meyakini satu tuhan) sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim a.s.,  akibatnya, mereka dijuluki sebagai masyarakat jahiliyah (bodoh).
Fakta ini dibenarkan oleh Sayyed Hossen Nasr (1982) dalam Muhammad Man of Allah. Ia mengemukakan  bahwa lebih dari seribu tahun di Arabia, ajaran monoteistik telah ditinggalkan. Mayoritas bangsa Arab telah jatuh ke dalam jurang kemusyrikan yang paling buruk. Mereka telah melupakan kebenaran dan tenggelam dalam zaman kejahilan (jahiliyah) yang menjadi latar belakang lahirnya Islam.
Dalam kondisi masyarakat yang demikian, maka lahirlah seorang  manusia yang bernama Muhammad yang tidak hanya menjadi rasul Allah, tetapi juga kekasih Allah SWT. dan rahmat yang dikirimkan ke muka bumi, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran (21: 107); ”Dan tidaklah kami utus Engkau (Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam”.
Islam yang diturunkan Allah melalui Rasulullah Muhammad adalah agama yang membebaskan kaum tertindas, mengangkat derajat orang-orang yang kalah, dan membebaskan umat manusia dari hegemoni tradisi dan sistem yang membelenggu. Hal ini karena Muhammad, sang pembawa risalah,  adalah nabi yang lahir dengan spirit atau semangat teologi pembebasan (liberation theology) berupa tauhid yang hanya meyakini satu tuhan.
Hak asasi yang dicanangkan oleh rasulullah adalah Hak Asasi Manusia (HAM) yang bersumber dari wahyu dan memiliki perspektif yang lebih komplek. Ini berbeda dengan HAM yang sekarang ini dipropagandakan oleh ”Barat” yang mendengungkan HAM tanpa ada ruh keilahiyahan di dalamnya, sehingga lebih menonjolkan  egoisme manusia yang cenderng menuruti nafsunya.
Pada khutbah Nabi di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah tahun 9 Hijriyah, ketika wuquf di Arafah, Nabi mengulang kembali pidato tentang hak asasi manusia itu; ”Hai manusia! masing-masing tuhanmu itu satu, agamamu satu, nenek moyangmu satu, masing-masing orang diantaramu adalah keturunan Adam, dan Adam terbuat dari sari pati tanah. Tidak ada keutamaan yang dimiliki orang-orang Arab melebihi orang ’ajam  (orang bukan Arab) kecuali taqwa.” Demikian yang dikutip oleh Ahmad Syalabi dalam al-Tarikh al-Islam wa al-Hadlarah al-Islam.
Thaha Husein, seorang intelektual dari Mesir, berkaitan dengan teologi pembebasan ini enyatakan bahwa andaikan Muhammad hanya membawa tauhid, tanpa mengajarkan sistem sosial dan ekonomi, tentu banyak orang Quraisy menyambut seruan Muhammad dengan mudah.
Penolakan kaum Quraiys   adalah karena mereka merasa terancam secara sosial, politik dan ekonomi dengan kehadiran Islam  sebagai agama yang juga membawa ajaran-ajaran tentang ekonomi, politik,budaya  dan tata kelola kemasyarakatan lainnya.
Dari pergulatan sosial dan spiritual inilah, kemudian Allah mengangkatnya menjadi utusan sekaligus pemimpin bagi umat manusia menuju tauhid. Penghormatan terhadap Nabi Muhammad yang berjuang untuk umat manusia dan menebar cinta untuk semesta (rahmatan lil 'alamin) itulah yang melahirkan peringatan Maulid Nabi.
Dengan memperhatikan perjuangan Muhammad yang tidak mudah dalam menebar kebaikan di dunia ini, maka begitu pula yang selayaknya dilakukan oleh umatnya dalam mencapai cita-cita mulia dalam hidup. Sejarah hidup Muhammad sejatinya adalah sumber inspirasi dan motivasi untuk hidup yang lebih baik.
Sebuah ayat dalam al-Qur’an patut  kita renungkan maknanya: ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah SWT. (Q.S. Al Ahzab: 21)
Semoga Allah SWT. senantiasa menunjukan jalan terbaik bagi kita untuk dapat meneladani  Nabi Muhammad SAW. (oleh: Abdul Wahid)

Label:

Kamis, 23 Desember 2010

FLEKSIBEL DALAM MENGGUNAKAN RPP

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan  satuan program pembalajaran yang dibuat untuk satu atau beberapa kompetensi dasar dan disiapkan untuk satu  atau beberapa kali pertemuan di kelas. Karena itu RPP berisi garis besar tentang apa yang akan dilakukan oleh guru dan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
RPP pada hakikatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran dan hasil apa yang ingin dicapai dari proses pembelajaran.
Paling tidak ada dua fungsi RPP dalam prosesnya. Pertama,  fungsi perencanaan, ini berarti RPP hendaknya dapat mendorong guru untuk lebih siap dalam melakukan kegiatan pembelajaran dengan perencanaan yang matang. Oleh karena itu, setiap akan melakukan pembelajaran guru wajib memiliki persiapan, baik  tertulis maupun tidak tertulis berupa persiapan mental intelektual guru. Untuk yang terakhir ini sangat mutlak diperlukan, mengingat mentalitas guru di kelas akan sangat memberikan pengaruh yang signifikan.
Kedua, fungsi pelaksanaan, bertujuan untuk mengefektifkan proses pembelajaran sesuai dengan apa yang direncanakan. Dalam hal ini, materi standar yang dikembangkan dan dijadikan bahan kajian oleh peserta didik harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuannya, mengandung nilai fungsional, praktis, serta disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan sekolah. RPP akan memandu jalanya pembelajaran, sehingga tidak membahas hal-hal yang belum saatnya atau menjadi kajian pada RPP selanjutnya.
Dan yang ketiga adalah fungsi evaluasi. RPP dapat dijadikan acuan dalam menilai  atau evaluasi keberhasilan pembelajaran. Hal ini karena dalam RPP sudah dimuat tujuan dan kompetensi yang hendak dicapai.
Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru tidak harus seratus persen sesuai dengan RPP, artinya guru tidak boleh terpaku hanya pada langkah-langkah yang ada, karena proses pembelajaran merupakan sesuatu yang dinamis yang tergantung juga pada faktor fisik dan psikis siswa dan guru, sehingga menuntut guru untuk mampu mengembangkan konsep yang ada menjadi sesuatu yang dinamis. Karena itu, dalam membuat RPP sebaiknya tidak sekaligus untuk satu tahun atau satu semester, tetapi secara bertahap setiap akan melaksanakan proses pembelajaran.
Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi perubahan kondisi personal dan sosial  siswa dan guru serta institusi pendidikan tempat berlangsungnya proses pembelajaran. Pentingnya memperhatikan kondisi lingkungan sekolah diantaranya disebabkan karena adanya komponen alat dan sumber pembelajaran. Dalam komponen ini berarti guru harus menimbang-nimbang alat dan sumber pembelajaran apa yang cocok dengan materi dan sesuai dengan koondisi lingkungan sekolah.
Akomodasi terhadap institusi pendidikan dan lingkunganya merupakan ”ruh” dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP merupakan kurikulum yang disusun berdasarkan pertimbangan-pertimbangan satuan pendidikan (sekolah) dan memperhatikan kapasitas dan kompetensi guru dan sarana prasarana yang ada. KTSP lahir dari lokalitas institusi pendidikan, bukan dari pusat kekuasaan sebagaimana kurikulum terdahulu. Ini adalah tantangan bagi kepala sekolah dan stafnya untuk dapat menyusun KTSP dengan baik.
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa pengembangan RPP itu, sesuai dengan fungsinya, menuntut pemikiran dan pertimbangan guru yang memperhatikan kondisi lingkungan yang  memerlukan usaha intelektual, pengetahuan teoritik dan pengalaman  sehingga sesuai dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai.
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam pengembangan RPP meliputi tiga hal, Pertama, mengidentifikasi dan mengelompokan kompetensi mata pelajaran yang ingin dicapai setelah proses pembelajaran. Kompetensi mata pelajaran adalah bagian dari kompetensi lulusan, yakni batas dan arah kemampuan yang harus dimiliki dan dapat dilakukan oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran suatu mata pelajaran tertentu
Kedua, mengembangkan materi standar. Materi srandar merupakan bahan pembelajaran berkenaan dengan jawaban atas pertanyaan, apa yang harus dipelajari oleh peserta didik untuk mencapai kompetensi.
Dan ketiga, menentukan metode pembalajaran. Penentuan metode erat kaitannya dengan pemilihan strategi pembelajaran yang paling  efektif dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang diperlukan.
Langkah-langkah pengembangan ini merupakan  hal-hal yang harus diperhatikan oleh  guru dalam mengkoordinasikan kelas. Untuk itu dibutuhkan kreativitas guru untuk mencapainya. Pembuatan RPP sesungguhnya menjadi ajang kreativitas tersendiri bagi guru untuk melatih kemampuan intelektualnya dalam menulis.
Jadi, RPP yang baik dan guru yang kreatif dan dinamis merupakan kunci proses pembelajaran yang sukses untuk mencapai berbagai kompetensi siswa.

Label:

Kamis, 09 Desember 2010

selamat tahun baru hijriah

Tepat 1 Muharram ini adalah tahun baru hijriyah 1432 H. Berbeda dengan perayaan pergantian tahun masehi yang penuh dengan gegap gempita selebrasi, maka pergantian tahun hijriyah cenderung dingin-dingin saja tanpa riuh rendah perayaan. Fakta ini memang cukup aneh di tengah masyarakat yang mayoritas muslim.
Sebagaimana diketahui, penanggalan kalender Islam dihitung berdasarkan momentum hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah. Perjalanan dakwah Islam mengalami dua periode penting yaitu periode Mekkah dan periode Madinah.
Selama 13 tahun dakwah Islam di Mekkah berada dalam tekanan dan teror fisik maupun psikis dari kaum kafir Mekkah. Dalam masa yang serba sulit itu Rasulullah berupaya mempersiapkan pribadi-pribadi muslim generasi awal (assabiqunal awwalun). Dan sejarah membuktikan bahwa rasul berhasil menciptakan para sahabat nabi yang memiliki kekuatan iman dan semangat dakwah yang tinggi semacam Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Bin Abi Thalib.

Hijrah rasulullah bukanlah melarikan diri dari tantangan dakwah. Bukan pula semata-mata pindah dari satu negeri ke negeri lain. Melainkan pindah dan menjauhkan diri dari bumi yang penuh dengan kemusyrikan dan kebodohan yang didominasi oleh kekejaman, menuju satu bumi yang akan memancarkan cahaya kebenaran (alhaq) dan tauhid. Suatu revolusi memadamkan kegelapan jiwa, kegelapan kepercayaan, dan kegelapan masyarakat yang penuh kejahatan dan kerusakan.
Hijrah Hati Nurani
Secara harfiah hijrah artinya pindah atau menyingkir. Tetapi perpindahan atau penyingkiran itu tidaklah selamanya mesti dilakukan secara fisik. Syaikh Mahmud Syaltut, mantan Rektor Universitas Al-Azhar Mesir menjelaskan bahwa pengertian hijrah terdiri dari dua macam.
Pertama, hijrah badaniah, yaitu berpindah atau menyingkir secara fisik. Kedua, hijrah qalbiyah, yaitu perpindahan hati nurani. Hijrah sebagaimana yang dilaksanakan oleh rasulullah dan para sahabatnya ketika itu sudah tidak ada lagi setelah dicetuskannya Futuh Makkah (pembebasan kota Mekkah) pada tahun ke 9 Hijriyah (Januari 630 M).
Dengan kata lain, seorang muslim yang hidup di zaman sekarang tidak perlu dan tidak dituntut untuk melakukan hijrah fisik atau uzlah (memencilkan diri) ke tempat yang sepi untuk dapat menjalankan ajaran Islam dengan sempurna. Sebab, ajaran Islam itu sendiri sebagian besar berkaitan dengan kehidupan masyarakat dengan segala problematikanya yang tidak mungkin untuk dihindari.
Hijrah yang relevan dengan kehidupan sekarang ini ialah hijrah hati nurani, yakni meng-hijrah-kan hati dari sikap materialisme kepada sikap bertauhid pada Allah SWT, hijrah dari pola hidup bebas nilai kepada pola hidup dengan tuntunan nilai-nilai agama dan akhlak mulia, hijrah dari mental korupsi kepada mental kejujuran, dan seterusnya. Hijrah hati nurani menjadi keniscayaan bagi seorang muslim di tengah kemerosotan nilai-nilai akhlak yang melanda dunia dewasa ini.
Untuk itu, kita perlu meneladani rasulullah sebagai role model dalam melakukan hijrah hati nurani di tengah berbagai penyakit sosial dan krisis akhlak dalam masyarakat. Rasulullah bersabda; ”Seorang muhajir ialah yang hijrah (menyingkir) dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah”. (HR Bukhari)
John Naisbit dan Patricia Aburdence dalam Megatrend 2000 menyebut zaman ini sebagai era kebangkitan agama-agama. Sementara itu, tidak bisa dipungkiri di Eropa dan Amerika dewasa ini, Islam merupakan agama terbesar kedua setelah agama Kristen atau Katholik. Jumlah penduduk muslim dunia saat ini mencapai 1,6 milyar. Abad XV Hijriyah telah dicanangkan oleh negara-negara Islam di seluruh dunia sebagai Abad Kebangkitan Kembali Umat Islam.Beberapa pemikir dan pengamat, baik dari kalangan muslim maupun non-muslim, mengatakan Islam sebagai penyelamat masa depan dunia. Pandangan demikian, didasari analisa bahwa Islam adalah way of life dan sistem hidup yang mengandung unsur-unsur yang diperlukan oleh umat manusia untuk keberlangsungan hidup dan ketenteraman dunia di bidang politik, sosial, ekonomi, falsafah, moral dan lain-lain.
Upaya yang perlu dilakukan adalah memperluas kesadaran umat untuk mempelajari, memahami serta mengamalkan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah Nabi. Yang benar bukanlah yang datang dari pemikiran manusia, tetapi yang datang dari Allah. Sesungguhnya Allah telah memuliakan kamu sekalian dengan sebab Islam. ”Maka bagaimana pun kamu hendak mencari kemuliaan tanpa Islam, pastilah Allah akan menghinakan kamu”, demikian yang dikatakan Umar bin Khattab r.a.
Kaum muslimin di mana pun, sebagai pribadi dan umat, haruslah mempunyai komitmen untuk mengamalkan Islam, menerapkan peraturan-peraturan Islam dalam semua aspek kehidupan, serta mencegah kemungkaran dan kerusakan di tengah masyarakat. Semoga Allah SWT menganugerahi kekuatan lahir dan batin kepada kita sekalian untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul, sehingga kebangkitan (kembali) umat Islam dapat kita wujudkan.
Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1432 Hijriyah!

Label:

Selasa, 09 November 2010

essensi hijrah

Sebentar lagi  kita masuk tahun baru hijriyah, tepatnya 1 Muharram 1432 Hijriyah. Berbeda dengan perayaan pergantian tahun masehi yang penuh dengan gegap gempita selebrasi, maka pergantian tahun hijriyah cenderung dingin-dingin saja tanpa riuh rendah perayaan. Fakta ini memang cukup aneh di tengah masyarakat yang mayoritas muslim.
Sebagaimana diketahui, penanggalan kalender Islam dihitung berdasarkan momentum hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah. Perjalanan dakwah Islam mengalami dua periode penting yaitu periode Mekkah dan periode Madinah.
Selama 13 tahun dakwah Islam di Mekkah berada dalam tekanan dan teror fisik maupun psikis dari kaum kafir Mekkah. Dalam masa yang serba sulit itu Rasulullah berupaya mempersiapkan pribadi-pribadi muslim generasi awal (assabiqunal awwalun). Dan sejarah membuktikan bahwa rasul berhasil menciptakan para sahabat nabi yang memiliki kekuatan iman dan semangat dakwah yang tinggi semacam Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Bin Abi Thalib.
Pada periode Madinah, rasulullah menata masyarakat baru dengan dakwah yang lebih terbuka. Beliau menanamkan kepada para sahabat ajaran-ajaran sosial kemasyarakatan yang toleran dan inklusif. Hal ini karena masyarakat Madinah ketika itu terdiri dari beragam suku dan penganut agama seperti kaum Nashrani dan Yahudi. Upaya rasul ini nampak dalam pasal-pasal yang terdapat dalam piagam Madinah yang merupakan acuan yuridis kemasyarakatan pertama dalam rangka menciptakan masyarakat yang madani.
Hijrah rasulullah bukanlah melarikan diri dari tantangan dakwah. Bukan pula semata-mata pindah dari satu negeri ke negeri lain. Melainkan pindah dan menjauhkan diri dari bumi yang penuh dengan kemusyrikan dan kebodohan yang didominasi oleh kekejaman, menuju satu bumi yang akan memancarkan cahaya kebenaran (alhaq) dan tauhid. Suatu revolusi memadamkan kegelapan jiwa, kegelapan kepercayaan, dan kegelapan masyarakat yang penuh kejahatan dan kerusakan.
Hijrah Hati Nurani
Secara harfiah hijrah artinya pindah atau menyingkir. Tetapi perpindahan atau penyingkiran itu tidaklah selamanya mesti dilakukan secara fisik. Syaikh Mahmud Syaltut, mantan Rektor Universitas Al-Azhar Mesir menjelaskan bahwa pengertian hijrah terdiri dari dua macam.
Pertama, hijrah badaniah, yaitu berpindah atau menyingkir secara fisik. Kedua, hijrah qalbiyah, yaitu perpindahan hati nurani. Hijrah sebagaimana yang dilaksanakan oleh rasulullah dan para sahabatnya ketika itu sudah tidak ada lagi setelah dicetuskannya Futuh Makkah (pembebasan kota Mekkah) pada tahun ke 9 Hijriyah (Januari 630 M).
Dengan kata lain, seorang muslim yang hidup di zaman sekarang tidak perlu dan tidak dituntut untuk melakukan hijrah fisik atau uzlah (memencilkan diri) ke tempat yang sepi untuk dapat menjalankan ajaran Islam dengan sempurna. Sebab, ajaran Islam itu sendiri sebagian besar berkaitan dengan kehidupan masyarakat dengan segala problematikanya yang tidak mungkin untuk dihindari.
Hijrah yang relevan dengan kehidupan sekarang ini ialah hijrah hati nurani, yakni meng-hijrah-kan hati dari sikap materialisme kepada sikap bertauhid pada Allah SWT, hijrah dari pola hidup bebas nilai kepada pola hidup dengan tuntunan nilai-nilai agama dan akhlak mulia, hijrah dari mental korupsi kepada mental kejujuran, dan seterusnya. Hijrah hati nurani menjadi keniscayaan bagi seorang muslim di tengah kemerosotan nilai-nilai akhlak yang melanda dunia dewasa ini.
Untuk itu, kita perlu meneladani rasulullah sebagai role model dalam melakukan hijrah hati nurani di tengah berbagai penyakit sosial dan krisis akhlak dalam masyarakat. Rasulullah bersabda; ”Seorang muhajir ialah yang hijrah (menyingkir) dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah”. (HR Bukhari)
Berkenaan dengan hijrah qalbiyah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Thariqul Hijratain memberi nasihat; seorang muslim dalam kehidupan dan perjuangannya menempuh dua jalan hijrah yaitu:
Pertama, hijrah kepada Allah, dengan mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya, mencintai-Nya, berbakti kepada-Nya, berserah diri kepada-Nya, berdoa, serta mengharap hanya kepada Ilahi. Kedua, hijrah kepada Rasul, dengan mengikuti perilaku, sikap, dan langkah-langkah perjuangannya.
John Naisbit dan Patricia Aburdence dalam Megatrend 2000 menyebut zaman ini sebagai era kebangkitan agama-agama. Sementara itu, tidak bisa dipungkiri di Eropa dan Amerika dewasa ini, Islam merupakan agama terbesar kedua setelah agama Kristen atau Katholik. Jumlah penduduk muslim dunia saat ini mencapai 1,6 milyar. Abad XV Hijriyah telah dicanangkan oleh negara-negara Islam di seluruh dunia sebagai Abad Kebangkitan Kembali Umat Islam.
Beberapa pemikir dan pengamat, baik dari kalangan muslim maupun non-muslim, mengatakan Islam sebagai penyelamat masa depan dunia. Pandangan demikian, didasari analisa bahwa Islam adalah way of life dan sistem hidup yang mengandung unsur-unsur yang diperlukan oleh umat manusia untuk keberlangsungan hidup dan ketenteraman dunia di bidang politik, sosial, ekonomi, falsafah, moral dan lain-lain.
Upaya yang perlu dilakukan adalah memperluas kesadaran umat untuk mempelajari, memahami serta mengamalkan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah Nabi. Yang benar bukanlah yang datang dari pemikiran manusia, tetapi yang datang dari Allah. Sesungguhnya Allah telah memuliakan kamu sekalian dengan sebab Islam. ”Maka bagaimana pun kamu hendak mencari kemuliaan tanpa Islam, pastilah Allah akan menghinakan kamu”, demikian yang dikatakan Umar bin Khattab r.a.
Kaum muslimin di mana pun, sebagai pribadi dan umat, haruslah mempunyai komitmen untuk mengamalkan Islam, menerapkan peraturan-peraturan Islam dalam semua aspek kehidupan, serta mencegah kemungkaran dan kerusakan di tengah masyarakat. Semoga Allah SWT menganugerahi kekuatan lahir dan batin kepada kita sekalian untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul, sehingga kebangkitan (kembali) umat Islam dapat kita wujudkan.
Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1432 Hijriyah!

Label:

Selasa, 02 November 2010

INTEGRASI PAI DAN PKN DALAM MENUMBUHKAN SIKAP TOLERAN


Konflik yang terjadi di Tarakan Kalimantan Timur beberapa waktu lalu yang kemudian mengatasnamakan dua suku yang berbeda  mengingatkan kita pada peristiwa serupa yang terjadi di Sampit. Kejadian selanjutnya adalah peristiwa di Jalan Ampera Jakarta, inipun membawa dua kelompok suku yang berbeda di Indonesia. Ini adalah dua  peristiwa dari sekian banyak konflik horizontal yang terjadi di indonesia belakangan ini.
Satu dekade ke belakang kita masih ingat konflik yang terjadi di Kabupaten Poso Maluku. Bedanya,  isu yang dihembuskan adalah isu agama. Pemerintah dan seluruh komponen bangsa ini berupaya  untuk menghentikan konflik horizontal ini, sampai akhirnya berhasil diredam dengan adanya perjanjian Malino 1 dan 2.
Setiap kita mungkin bertanya dalam hati, mengapa peristiwa demi peristiwa begitu sering terjadi, padahal bangsa ini adalah bangsa yang dulu terkenal dengan kerukunannya. Inilah pertanyaan fundamental yang harus dicari jawabanya  agar peristiwa dan konflik serupa tidak terjadi lagi di waktu yang akan datang.
Secara sederhana penulis menganggap bahwa ini semua terjadi karena semakin berkurangnya rasa tenggang rasa atau toleransi dalam diri anak bangsa, tentunya disamping faktor lain seperti ekonomi, kepentingan politik dan lainnya.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar yang terdiri dari ribuan pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke, beragam suku bangsa, bahasa dan agama serta keyakinan yang dianut. Keragaman inilah yang menjadi benih tindakan intoleran jika  tidak disikapi dengan bijak.
Sikap toleran harus ditumbuhkan sejak dini. Mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat dan tentu sekolah tempat anak-anak kita belajar. Pendidikan merupakan upaya sistematis untuk membentuk karakter baik dari bangsa ini yang sejatinya adalah baik. Dengan pendidikanlah ditanamkan nilai-nilai, norma-norma dan idealitas-idealitas sosial di masyarakat.
Pertanyaannya adalah sudahkah praktik pendidikan yang selama ini berlangsung memberikan solusi terbaik bagi bangsa ini, atau paling tidak, memberikan kontribusi dalam menyelesaikan beragam persoalan bangsa ini.
Secara kurikuler ada dua pelajaran yang memberikan ”bekal” toleransi kepada siswa yaitu PAI dan PKn, disamping pelajaran-pelajaran lainnya.
PAI bertujuan untuk,  pertama, menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Kedua, mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama  dan berakhlak mulia  yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.
Pada tujuan yang pertama, dalam pendidikan agama-agama yang lainpun, mungkin akan sama-sama bersifat eksklusif, sedangkan pada tujuan yang kedua akan sama-sama bersifat universal. Sehingga nilai-nilai yang ingin dituju bagi PAI yang kedua akan menjadi fenomena yang selalu ada pada tujuan pendidikan pada agama-agama lain. Pada tujuan yang kedua inilah sebetulnya PAI mempunyai kemungkinan untuk diintegrasikan dengan PKn.
Hal lain yang memungkinkan PAI dan PKn untuk diintegrasikan adalah bahwa PAI dan PKn sama-sama masuk dalam kategori pelajaran normatif yang berupaya membentuk karakter siswa. PKn menanamkan sikap-sikap luhur bangsa, termasuk toleransi dan penghargaan akan keragaman.
PAI dan PKn, menurut penulis perlu juga mempertimbangkan  aspek individual dan sosial. Tanpa mempertimbangkan dua aspek itu, maka anak didik hanya akan jatuh pada keterasingan (alienation), yang pada akhirnya akan menghilangkan karakter  anak didik tersebut. Mereka akan kehilangan jati dirinya sebagai individu dan  sebagai warga bangsa.
Dengan begitu, PAI tetap akan menghasilkan pribadi-pribadi yang taat  dalam penghayatan iman Islamnya, tetapi juga mempunyai wawasan dan keterampilan etika kemajemukan sebagai bagian dari warga bangsa Indonesia.
Sedangkan PKn akan  memberikan pemahaman yang mendalam bagi peserta didik terhadap wawasan kebangsaan dengan nilai-nilai demokratis, HAM, dan masyarakat Madani, tetapi juga tetap meneguhkan terhadap penghayatan keimanan mereka, bahkan dengan didorong dimensi penghayatan religiusitasnya ini, diharapkan mereka mempunyai cara pandang yang terbuka terhadap realitas kebangsaan yang majemuk.
Disinilah urgensi integrasi PAI dan PKn dalam pendidikan dalam rangka menciptakan wawasan keragaman pada anak didik. Akhirnya, upaya integral yang dilakukan  dalam rangka menumbuhkan  sikap toleran demi meminimalisir konflik horizontal adalah langkah terbaik saat ini.

Label:

Minggu, 19 September 2010

kembali fitri kembali belajar

selesai sudah umat Islam menjalani ibadah puasa di bulan ramadhan tahun ini. Rangkaian ibadah, mulai dari shaum, dzikir, tadarus, sedekah, sampai i'tikaf, merupakan ibadah-ibadah yang dianjurkan untuk dijalankan dengan penuh kekhusyukan. Diharapkan dengan ibadah-ibadah tersebut orang beriman akan memperoleh predikat takwa dari Allah SWT.
Usai ramadhan, umat Islam kemudian merayakan hari raya idul fitri. Jutaan umat Islam berbondong-bondong pulang kampung masing-masing untuk merayakan idul fitri bersama keluarganya. Mulai dari rakyat jelata sampai para pejabat negara pun ikut mudik, pulang ke kampung halamannya masing-masing. Akibatnya adalah adanya pergerakan massa yang sangat besar dalam waktu yang bersamaan, sehingga mengakibatkan kemacetan yang luar biasa, sampai-sampai jalan tol pun macet karena  volume kendaraan yang sangat banyak pada saat bersamaan. Kepenatan, kemacetan, ketidaknyamanan, bersepeda motor bersama anak-anaknya dengan beban yang melebihi kapasitas untuk menempuh jarak yang sangat jauh, berdesak-desakan berebut tempat duduk di bus dan kereta, bahkan ada yang rela di toilet kereta, semua itu tidak menjadi halangan dan rintangan bagi saudara-saudara kita muslim untuk mengunjungi saudara mereka di kampung halaman. Sungguh luar biasa semangat silaturrahmi masyarakat muslim Indonesia.Perayaan idul fitri atau lebaran juga otomatis melibatkan anak-anak kita yang juga menjadi bagian dari masyarakat muslim di Indonesia.
Libur panjang yang mereka jalani, sekitar dua puluh hari, tentu akan memberikan pengaruh psikologis ketika mereka kembali harus belajar dan bergelut dengan beragam persoalan di sekolah masing-masing.
Anak-anak kita kembali akan dihadapkan dengan pelajaran-pelajaran, menumpuknya ulangan-ulangan, wajah guru-guru yang siap dengan tugasnya, dan laiinnya.
Hal ini jelas berbeda dengan yang dialami selama liburan idul fitri kemarin, dimana mereka merasakan suasana idul fitri yang begitu menyenangkan dan sangat nyaman.Umumnya suasana idul fitri akan menampakan sebuah perubahan yang luar biasa. Orang tua, yang saat hari-hari biasa selalu tampil dengan wajah tegas dan galak untuk menyuruh ini dan itu, tapi ketika idul fitri mereka begitu baik dan bijak, baik secara psikis maupun materi.
Dari segi materi, orang tua dan saudara-saudara yang lain biasanya memberi jatah uang jajan yang berlebih, tentu ini jika tidak dilakukan dengan bijak akan memberikan dampak yang kurang baik bagi anak-anak kita.
Lingkungan rumah dan tetangga pun sangat nyaman, semuanya saling memaafkan. Anak memohon maaf kepada orang tuanya atas segala kesalahan dan dosa yang selama ini dilakukan. Sebaliknya, orang tua pun memaafkan semua kesalahan yang dilakukan oleh anak-anak mereka. Teman-teman juga melakukan hal yang sama, sehingga semuanya merasa tenang dan nyaman dalam menjalani kehidupan keseharian.Semuanya kembali fitri (suci) sebagaimana arti dari hari raya idul fitri, yaitu kembali suci atau fitri.
Inilah fakta sosial yang harus dicermati oleh guru dalam menghadapi awal-awal pembelajaran di sekolah. Guru harus berupaya sebijak mungkin untuk kembali menumbuhkan kesadaran belajar siswa.
Paling tidak ada tiga hal  yang dapat dilakukan guru pada awal-awal proses pembelajaran di sekolah agar siswa tidak mengalami "shock" atau keterkejutan dalam belajar.
Pertama, mulailah dengan mengadakan silaturrahmi dengan siswa. Ini dapat dilakukan secara pribadi antara guru dengan siswa atau secara bersama-sama dengan seluruh elemen yang ada, mulai dari kepala sekolah, guru, tata usaha, tukang kebun, dan sebagainya. Hal ini akan menumbuhkan sebuah ikatan batin diantara siswa dan orang-orang yang ada di sekolah sehingga mereka merasa nyaman untuk kembali belajar.
Kedua, ajaklah anak-anak untuk saling memaafkan diantara teman-teman mereka. Selama ini tentunya dalam interaksi yang terjadi menimbulkan hal-hal yang dapat menyinggung orang lain, disadari ataupun tidak pasti ini terjadi. Kesadaran untuk mengakui kesalahan sendiri perlu untuk dijelaskan dan dilaksanakan pada momen ini. Yang lebih penting lagi adalah kebesaran jiwa untuk memberi maaf pada orang lain dipraktikan di sini.
Dan yang ketiga adalah dengan menjelaskan makna idul fitri yang sesungguhnya pada anak-anak. Sejatinya idul fitri merupakan hari raya bagei mereka yang telah sukses dalam menjalankan rangkaian ibadah di bulan ramadhan. Orang yang sukses tersebut dijanjikan Allah dengan kembali pada kefitrahan, laksana bayi yang baru lahir, tanpa kesalahan dan dosa. Sehingga yang seharusnya dilakukan pasca idul fitri adalah adanya peningkatan amal ibadah dan prestasi belajar. Bukan sebaliknya, setelah idul fitri, kembali melakukan dosa dan kesalahan seperti sebelum ramadhan dan idul fitri.
Penulis kira hal-hal inilah yang dapat dijadikan starting point oleh guru dalam mengawali kegiatan pembelajaran pasca libur idul fitri yang cukup panjang. Mudah-mudahan anak-anak kita mampu mengaembil beragam hikmah yang ada dari peristiwa perayaan idul fitri tahun ini.
Anak-anaku, selamat belajar kembali dengan semangat fitri yang telah diraih.
Mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita semua amin

Label:

Minggu, 05 September 2010

MEMOTIVASI ANAK DENGAN LAILATUL QADAR

Paruh ketiga setiap bulan ramadhan merupakan momentum yang luar biasa bagi umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Setiap ustad yang ceramah di masjid pasti membahas topik ini, yaitu lailatul qadar.
Dalam beberapa keterangan dari nabi dinyatakan bahwa Allah SWT akan menurunkan lalitul qadar kepada hambanya yang mengisi ramadhan dengan beragam ibadah. Lailatul qadar merupakan malam yang lebih utama dari seribu bulan, hal ini bisa ditemukan dalam qur'an surat al-Qadar.
Rasulullah mencontohkan ketika memasuki paruh ketiga ramadhan dengan menjalankan sebuah ibadah yang disebut dengan i'tikaf. I'tikaf merupakan aktivitas ibadah berupa berdiam diri di masjid secara terus menerus sambil tadarus (mengkaji al-Qur'an),  dzikir (mengingat kekuasaan Allah), shalat sunnah dan ibadah lainnya.
Aktivitas ibadah ini sangat baik dalam rangka meningkatkan keimanan dan taqarub kepada Allah SWT. I'tikaf sesungguhnya bentuk kesungguhan hamba dalam ibadah secara totalitas. Ini dibuktikan dengan meninggalkan berbagai aktifitas keduniaan. Totalitas hamba dalam ibadah inilah yang sangat menarik untuk dicermati.
Hal inilah yang menjadikan Allah memberikan balasan yang luar biasa berupa lailatul qadar. Manusia yang sudah total dalam menghamba kepada Allah akan merasakan sebuah ketenangan yang luar biasa. Ia tidak merasa takut akan kekurangan harta. Ia tidak terlena dengan rayuan hedonisme, padahal pada saat yang bersamaan, orang lain sedang sibuk-sibuknya untuk berburu keperluan lebaran yang tidak ada ujungnya. Yang ia lakukan justru berburu pahala yang ditawarkan Allah.
Berbicara tentang lailatul qadar, maka ada beragam pendapat para ulama dalam menyikapi hadits nabi yang membahasnya.Mulai dari kapan terjadinya, diberikan kepada siapa, sampai pada tanda-tanda alam yang mengiringinya.Semua itu sesungguhnya bukanlah hal yang essensial, akan tetapi hanya sebagai keterangan asal (dalil) dari Nabi yang memerlukan pemahaman yang bijak, sehingga kita tidak terjebak pada hal-hal minor dengan melupakan yang major.
Sejatinya, Allah menjadikan momen lailatul qadar sebagai sebuah metode dalam membina dan mendidik hambanya agar memiliki semangat tinggi dalam menjalani fungsi kemanusiaan manusia, yaitu untuk memakmurkan bumi ini dan untuk ibadah kepada Allah SWT.
Metode ini sangat menarik untuk dicermatei bagei kita yang bergelut dengan dunia pendidikan. Kita dapat meneladani Allah ini dengan cara memotivasi anak didik untuk lebih meningkatkan prestasinya. Seorang guru harus mampu menciptakan "lailatul qadar-lailatul qadar" baru sehingga menarik perhatian siswa dan pada akhirnya mereka mampu berprestai maksimal.
"Lailatul qadar" sesungguhnya adalah reward yang ditawarkan agar anak-anak melakukan sebuah aktifitas. Reward tidak hanya dalam bentuk materi, akan tetapi berupa penghargaan verbal yang keluar dari mulut gurupun dapat menjadi pendorong dalam melakukan sesuatu.
Mudah-mudahan kita bisa menangkap sinyal-sinyal pembelajaran yang Allah siratkan dalam momen lailatul qadar.

Label:

Rabu, 04 Agustus 2010

MENERAPAKN MODEL PEMBELAJARAN TERPADU

Dalam praktik penyelenggaraan pendidikan di sekolah, sering terjadi dikotomi atau pemilahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Hal ini semakin terasa di lembaga pendidikan yang dikelola oleh organisasi keagamaan. Implikasi dari semua ini adalah adanya perlakuan dan sikap yang berbeda dari masing-masing pihak yang berada pada bidang agama dan non agama. Seolah-olah keduanya adalah sesuatu yang berseberangan dan tidak mungkin untuk disatukan.

Sejatinya pemilahan tersebut tidaklah pada tempatnya untuk dibesar-besarkan, karena dalam Islam sendiri mengajarkan agar seluruh aspek kehidupan dikaji dengan baik, tanpa melihat dan membedakan aspek duniawi ataupun ukhrowi. Allah menyuruh manusia untuk mengejar kehidupan akhirat dengan tanpa melupakan kehidupan dunia.

Ilmu-ilmu ayang ada sekarang pada hakikatnya berasal dari Allah SWT., karena sumber ilmu tersebut berupa wahyu, alam jagat raya, manusia dengan perilakunya, seluruhnya adalah ciptaan Allah yang diberikan kepada manusia. Atas dasar paradigma tersebut, seluruh ilmu hanya dapat dibedakan dalam nama dan istilahnya saja, sedangkan hakikat dan substansi ilmu tersebut sebenarnya satu dan berasal dari Tuhan sebagai pencipta seluruh alam.

Sebagai salah satu solusi dari hal ini adalah menerapkan pembelajaran terpadu PAI dengan pelajaran yang selama ini dianggap sebagai pelajaran umum. Secara sederhana model ini dilakukan dengan cara memadukan materi-materi keagamaan dalam pelajaran-pelajaran umum.

Pembelajaran terpadu berangkat dari kurikulum terpadu (integrated curriculum), yaitu kurikulum yang disusun dengan memadukan dan mengembangkan materi pelajaran yang terintegrasi antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain, tetapi tetap memelihara identitas mata pelajaran induk, seperti matematika, IPA, IPS, PKn dan sebagainya.

Pengajaran terpadu dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, materi beberapa mata pelajaran disajikan dalam tiap pertemuan hanya menyajikan satu jenis mata pelajaran, biasanya disebut dengan pelajaran tematik. Cara kedua, keterpaduannya diikat dengan satu tema pemersatu, yaitu meyakini kekuasaan Tuhan dan menjadikan moralitas dan etika sebagai nilai utama (main values).

Sebagai contohnya adalah ketika seorang guru IPA menjelaskan tentang susunan alam semesta, hukum-hukum alam berkaitan dengan bumi, tata surya dan lainnya, maka pada kesimpulan akhirnya ia harus menyatakan bahwa semua isi alam semesta dan pengaturannya dilakukan oleh sebuah kekuatan yang Maha Dahsyat yang tidak lain adalah kekuasaan Allah SWT.

Ketika seorang guru sejarah menjelaskan periodisasi sejarah, tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya, maju mundurnya sebuah peradaban dan lainnya, maka ia akan menutup penjelasannya dengan mencari hikmah sejarah yang dapat diperoleh sehingga siswa bisa mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep, dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna, karena dalam pembelajaran terpadu, anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung yang menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.

Dengan demikian dibutuhkan kerjasama antara beberapa guru mata pelajaran yang berbeda dan komitmen pemegang kebijakan di lembaga pendidikan (kepala sekolah) tersebut dalam menyusun bahan ajar dan ketika proses belajar mengajar berlangsung. Atau paling tidak ada komitmen bersama antar seluruh sivitas akademika dalam proses belajar mengajar untuk lebih membina moralitas siswa.

Implementasi integrated learning dalam PAI sesungguhnya tidak harus diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Islam, akan tetapi juga lembaga pendidikan secara umum. Sebab, konsep ini dapat dilakukan secara fleksibel dengan memperhatikan berbagai kondisi di lingkungan sekolah.

Satu hal yang lebih penting dari itu semua adalah berkaitan dengan tujuan dari konsep pembelajaran terpadu yaitu untuk menjadikan siswa sebagai manusia yang memiliki integritas tinggi terhadap moralitas dan etika dan bukan menjadi manusia yang memiliki kepribadian ganda (split personality), dimana mereka akan menunjukan perilaku yang terpuji ketika berada di tempat yang menjadi simbol kesalihan seperti mesjid, sekolah dan lainya, tetapi mereka berubah menjadi manusia yang tidak bermoral ketika berada di luar itu.

Sudah bukan waktunya lagi ketika beban pembinaan moralitas anak-anak kita serahkan pada salah satu pihak saja, sementara pihak yang lain merasa tidak bertanggung jawab. Dengan perkembangan dunia teknologi informasi sekarang ini, yang lebih banyak menawarkan sesuatu yang negatif kepada anak-anak kita, maka dibutuhkan integrasi semuanya, sehingga ke depan anak-anak kita mampu menjadi generasi yang baik dan memiliki integritas tinggi terhadap moralitas. Semoga

Label:

Sabtu, 10 Juli 2010

PELAJARAN DARI PERISTIWA ISRA MI’RAJ

        Ada banyak hikmah dan nilai yang bisa diambil dari peristiwa isra’ dan mi’raj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Hikmah dan nilai tersebut sesungguhnya menjadi harapan dan acuan bagi umatnya dalam menjalani kehidupan ini. Ayat suci al-Qur’an menerangkan peristiwa tersebut dalam Surat al-Isra ayat satu, ''Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.''

Peristiwa isra’ dan mi’raj ini terjadi pada 27 Rajab. Isra' Mi'raj antara lain menghasilkan perintah yang mewajibkan kaum Muslimin untuk mendirikan shalat lima waktu sehari semalam, yang kemudian dipertegas oleh Nabi sebagai tiang agama. Hasil kewajiban untuk menjalankan sholat inilah yang menjadi essensi dari peristiwa isra mi’raj ini.

''Tidaklah seorang Muslim menghadiri shalat wajib lalu menyempurnakan wudhu, khusuk dan rukuknya melainkan shalat itu menjadi penghapus dosa-dosa yang lalu selama ia tidak mengerjakan dosa besar.'' (HR Muslim). Demikian sebuah hadits yang mengungkapkan kelebihan sholat. Masih banyak keterangan lain yang menjelaskan keutamaan sholat.

Bagi mereka yang sudah terbiasa menjalankan dan sudah menemukan nikmatnya shalat, sekecil apa pun masalah yang dihadapi, ia akan mengadu kepada Allah SWT melalui ibadah shalat. Baginya, dalam sholat terdapat kenikmatan luar biasa. ''Pusat kebahagianku terletak pada shalat,'' demikianlah sabda Rasul SAW yang diriwayatkan Imam Muslim.

Muhammad adalah manusia sempurna yang memiliki kekuatan jiwa yang sangat luar biasa, sehingga Allah, Tuhan yang Maha Besar berkenan untuk menerima secara langsung. Muhammad Husein Haikal dalam ”Sejarah Muhammad” menggambarkan Isra' Mi'raj dengan mengatakan, ''Apabila jiwa telah mencapai kekuatan dan kesempurnaan yang begitu tinggi seperti yang telah dicapai oleh jiwa Rasulullah, sangat pantas Allah memperjalankan Rasulullah pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa guna memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya.''

Hikmah Isra’ Mi’raj

Kunci kesuksesan dan kebahagiaan sebenarnya terletak pada sejauh mana kemampuan kita dalam menyerap makna dari kejadian-kejadian dalam kehidupan ini untuk kemudian menjadikannya pelajaran. Selama manusia belum mampu mengambil dan menyerap makna dari kejadian-kejadian tersebut, manusia belum memiliki kejernihan pandangan dan ketajaman hati. Maka, ia tidak akan menemukan jalan yang membawanya pada kebahagiaan yang diinginkan.

Rasulullah SAW mencontohkan agar manusia selalu mengadukan permasalahan hidupnya kepada Allah. Seorang Muslim bisa mengadukan apa pun masalahnya tanpa perlu malu, karena Allah SWT sudah mengundang orang-orang yang bermasalah mengetuk pintu-Nya. Dengan shalat, ia niatkan agar masalahnya terselesaikan.

Bagi anaka-nak kita, isra’ mi’raj merupakan simbol kebenaran dalam mencari solusi dalam mengahadapi berbagai persoalan hidup. Dengan perkembangan dan perubahan zaman yang semakin cepat dan sulit untuk diprediksi, terkadang membuat kita kebingungan dalam mencari penyelesaian masalah.

Sholat adalah simbol keseriusan terhadap kekuasaan tuhan. Orang yang sholat artinya ia yakin bahwa kedekatan dengan Allah merupakan cara yang jitu dalam menghadapi berbagai masalah.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana menjadikan sholat ini sebagai sesuatu yang melekat dalam diri anak-anak kita.

Anak-anak kita kalau ditanya tentang tata cara dan bacaan sholat, sebagian besar mampu untuk menjawabnya, karena memang ini adalah sesutu yang bersifat kognisi yang mudah untuk menghafalnya. Tetapi giliran pertanyaan, sudahkan menjalankan sholat lima waktu dalam kehidupan sehari-hari mereka, maka sebagian menjawab belum. Hal inilah yang harus menjadi agenda bersama seluruh pihak dalam menanamkan kesadaran untuk menjalankan sholat.

Keterbiasaan atau istiqomah dalam menjalankan berbagai ibadah ritual, termasuk sholat didalamnya, membutuhkan sebuah upaya sungguh-sungguh dalam menanamkannya. Kegiatan sholat berjamaah di sekolah, penugasan untuk menjalankan sholat sunnah, seperti sholat dluha, tahajud, gerhana dan sebagainya merupakan bentuk upaya dalam membiasakan anak dalam menjalankan perintah Allah ini.

Alangkah indahnya di sekolah, ketika waktu sholat dzuhur tiba, maka tedengarlah lantunan suara adzan di masjid sekolah. Semua siswa, guru, sampai kepala sekolah pergi ke mesjid untuk sholat berjamaah. Pemandangan yang demikian merupakan sesuatu yang ideal yang harus dibiasakan dalam rangka menciptakan suasana spiritual yang baik bagi anak didik.

Sekolah harus mampu memformulasikan berbagai program yang pro sholat, mulai dari penyusunan kurikulum, silabus, RPP, dan mengadakan kegiatan ekstra kurikuler yang pro sholat. Dengan mentafakuri peristiwa isra’ mi’raj ini, diharapkan kita mampu menjadikan sholat sebagai bagian dari aktifitas hidup di sekolah.

Label:

Selasa, 01 Juni 2010

MEWUJUDKAN ISLAM SEBAGAI AGAMA MORAL

Betapa saratnya pesan moral atau akhlak dalam Islam, secara mudah dapat diketahui dari misi kerasulan Nabi Muhammad SAW itu sendiri, dimana beliau tidak diutus kecuali untuk memperbaiki moral atau untuk memperbaiki akhlak sehingga tercipta akhlak yang mulia.

Ketika seorang sahabat bertanya kepada Aisyah tentang persoalan moral ini, maka dijawab Aisyah bahwa standar akhlak Rasulullah adalah Al-qur’an. Bahkan Allah sendiri memuji Nabi dengan kalimat “wa innaka la’ala khuluqin ‘adhiim” (sesungguhnya engkau berakhlak luhur) (Q.S. Qaf: 4). Menurut rasulullah, sebaik-baik manusia adalah yang berakhlak (H.R. Bukhari Muslim), dan yang sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya (H.R. Tirmidzi)

Dalam Islam, antara ibadah ritual dan moralitas mempunyai kedudukan yang seimbang. Allah secara tegas dalam surat al-Mauun menyatakan tentang celakanya orang yang tidak menjunjung moralitas terhadap sesamanya, bahkan lebih tegas lagi dianggap sebagai pendusta agama.

Islam adalah suatu sistem yang komplit dan hidup, saling mengisi antara persoalan ritual dan pesoalan moral, antara kewajiban individu dan sosialnya. Ringkasnya, dalam perspektif Islam tidak pernah ada sekularisasi (pemisahan) aktivitas ritual-sakral dengan moral-sosial. Yang ada hanyalah keunggulan makna ibadah. Islam memandang aktivitas sosial-profan mempunyai makna sakral, selama aktivitas itu diiringi dengan niat yang ikhlash dalam rangka mencari ridlo-Nya. Juga aktivitas ritual seperti sholat, akan mempunyai implikasi sosial jika dilaksanakan dengan khusyu dan benar.

Jelaslah, bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi moral, namun masalahnya tidak berhenti di situ, tetapi bagaimana mengupayakan agar moralitas sebagai substansi Islam tersebut dapat merealita dalam kehidupan umat? Jawabannya ada pada proses pendidikan Islam Untuk itu, hemat penulis ada beberapa hal yang perlu dikembangkan dalam sistem pendidikan kita.

Pertama, pendidikan Islam perlu diarahkan agar umat memahami doktrin-doktrin Islam secara utuh dan menyeluruh, tidak berkutat pada masalah ritual beserta rukun-rukunnya saja. Tidak juga dilakukan dengan pendekatan fiqhiyah dari salah satu madzhab saja. Tetapi dimulai dari doktrin global tentang hakikat utama Islam, hakikat Allah SWT., rasul, al-qur’an, hakikat manusia itu sendiri, misi dan tugas penciptaan manusia, hakikat ibadah, ukhuwah, sejarah, kondisi kontemporer umat dan sebagainya.

Dengan pemahaman umat yang tidak hanya fiqh oriented, apalagi fanatik terhadap salah satu madzhab, maka umat Islam akan menjadi manusia yang komprehensif dalam memahami ajarannya. Kecenderungan dari fanatisme madzhab adalah timbulnya perpecahan dalam umat Islam. Umat menghabiskan energinya hanya untuk memperdebatkan masalah-masalah seputar fiqh yang nota bene merupakan masalah khilafiyah (debatable) yang tidak substansial.

Umat Islam harus disodori dengan realitas ketertinggalan mereka dari umat lain yang sudah lebih dulu maju dengan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai. Rangsangan untuk mengejar ketertinggalan inilah yang seharusnya lebih mengemuka.. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam sejak awal mengetahui target capaian yang harus mereka perjuangkan yaitu mengejar ketertinggalan.

Kedua, pendidikan Islam perlu diarahkan pada pencerahan hati dan kecerdasan emosional (emotional quotion), tidak hanya pada tataran kognitif, agar umat mempunyai wawasan akidah, ruhiyah dan moral yang tinggi, kemampuan empati, kemampuan penghayatan dan interaksi dengan nilai-nilai Islam serta peka terhadap persoalan-persoalan kolektif yang dihadapi.

Penekanan pada pencerahan hati dan kecerdasan emosional adalah agar umat Islam, sekali lagi, tidak terjebak pada aktivitas fisik ritual tanpa makna yang meresap dalam hati sanubarinya. Rasa yang dimiliki manusia akan membawa pada totalitas kehidupan keagamaan yang komprehensif. Rasa dan emosi manusia yang terasah dengan baik akan membawa sang empunya pada aplikasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan kesehariannya.

Dalam proses pendidikan Islam, kecenderungan yang muncul adalah adanya penekanan yang berlebih pada aspek kognitif semata. Pendidikan Islam yang lebih menekankan pada tataran kognitif nampak dari output pendidikan yang mahir dalam menyebutkan keutamaan-keutamaan dari suatu aktivitas keagamaan, akan tetapi mereka sangat kering pengalaman dan pengamalan aktivitas keagamaan tersebut. Hal ini terjadi karena dalam dunia pendidikan Islam, kognitiflah yang menjadi titik tekannya, padahal justru afeksilah yang harus lebih ditekankan.

Penekanan pada afeksi akan nampak pada usaha stake holder pendidikan Islam untuk menciptakan sebuah regulasi (kurikulum) sedemikian rupa yang lebih fokus pada usaha menciptakan sikap (afeksi) dari anak didik. Sikap yang dibentuk dari pengalaman dan pengamalan keagamaan agar berbanding lurus dengan meningkatnya keyakinan umat akan ajaran agama yang dianutnya.

Dan ketiga, umat perlu mendapatkan latihan-latihan (keterampilan) sehingga memiliki skill dan bukan hanya value, sehingga mereka terampil dalam beramal dan menyelesaikan masalah-masalah yang komplek. Poin ketiga ini mengindikasikan perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam dunia modern yang semakin mengglobal ini, umat Islam dihadapkan pada sebuah situasi persaingan yang sangat tinggi. Dalam seluruh aspek kehidupan umat Islam sangat tertinggal. Diantara sebabnya adalah tidak dimilikinya skill atau keterampilan umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Umat Islam sangat tergantung kepada dunia luar. Dalam kondisi yang demikian inilah umat Islam digerakan dan didikte oleh mereka.

Inilah tantangan bagi pendidikan Islam untuk secara serius menggarap masalah peningkatan skill hidup umat. Hal ini bisa dilakukan dengan cara penyediaan berbagai macam program keahlian dalam dunia pendidikan yang skill oriented. Selama ini yang nampak adalah program-program yang value oriented yang lebih dominan. Tentu hal ini memerlukan sebuah perubahan paradigma yang cukup fundamental dari sesuatu yang value oriented menuju yang skill oriented yang lebih menawarkan program-program yang bersifat keterampilan praktis yang dibutuhkan umat Islam.

Islam sebagai agama moral perlu difahami secara integral agar ia menjadi penggerak dan sumber motivasi dalam membangun keunggulan-keunggulan bagi umat Islam. Pada titik inilah perlunya membelah simbol-simbol, menguak isi, lalu mereguk manisnya sari Islam, agar umat tidak berjalan di tempat dan memboroskan energi yang tersimpan. Wallahu a’lam.

Label:

Kamis, 06 Mei 2010

COLLABORATIVE LEARNING DALAM MENGELOLA KELAS

Definisi pendidikan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara

Satu hal yang menurut penulis perlu digaris bawahi adalah mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Inilah sesungguhnya yang paling utama dari seluruh proses yang ada. Suasana belajar di kelas sangat ditentukan oleh sejauh mana guru mampu menggunakan metode, model dan gaya mengajar.

Beberapa ahli pendidikan menyatakan, bahwa betapapun bagusnya suatu kurikulum, hasilnya sangat bergantung pada apa yang dilakukan oleh pendidik dalam kelas. Kualitas pembelajaran juga dipengaruhi oleh sikap pendidik yang kreatif untuk memilih dan melaksanakan pendekatan dan model pembelajaran.

Oleh karena itu pendidik harus selalu menumbuhkembangkan sikap kreatifnya dalam mengelola pembelajaran, misalnya, dalam memilih dan menerapkan strategi, pendekatan, metode maupun media pembelajaran yang relevan dengan kondisi peserta didik dan tujuan pembelajaran.

Collaborative Learning Dalam Mengelola Kelas

Salah satu upaya untuk mewujudkan suasana belajar yang memungkinkan peserta didik berkomunikasi secara baik adalah dengan menggunakan metode pembelajaran Collaborative Learning (pembelajaran kerjasama). Collaborative Learning merupakan salah satu bentuk dari pembelajaran Active Learning yang lebih menekankan kepada aktifitas dan kreatifitas siswa. Metode ini meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal melalui aktifitas-aktifitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu yang singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran.

Realisasi collaborative learning dalam pembelajaran adalah peserta didik dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yang berbeda. Setiap kelompok diberi tugas untuk menyelesaikan suatu masalah dengan cara bekerja sama dengan seluruh anggota kelompoknya. Setiap anggota diharuskan aktif dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Guru memonitor jalannya kerjasama dan memberikan bimbingan jika menemukan kelompok yang kurang baik dalam bekerja sama. Pembelajaran dengan metode ini dilakukan dalam beberapa kali pertemuan, tergantung pada seberapa sulit masalah yang harus dipecahkan. Durasi pertemuan antar anggota kelompok maupun antar kelompok dalam bekerja sama akan memberikan pengaruh terhadap keberhasilan metode ini. Pertemuan kelompok yang teratur dalam jangka waktu tertentu akan dapat meningkatkan kesuksesan dibanding kelompok yang hanya bekerja sama kadang-kadang saja.

Pembelajaran ini dirancang untuk memaksimalkan keberhasilan belajar secara kolaboratif dan untuk mengasah keterampilan kerjasama siswa dalam berinteraksi dengan teman-temannya, dan juga untuk meminimalkan kegagalan belajar yang dilakukan secara sendiri-sendiri.

Kelebihan Metode Collaborative Learning

Paling tidak ada tiga kelebihan dari Collaborative Learning. Pertama, metode pembelajaran kelompok ini merupakan bentuk usaha dari pendidik dalam memberikan pembelajaran yang lebih menekankan pada aspek afektif dan psikomotor. Dalam pelaksanaannya metode ini tetap memperhatikan aspek kognitif, tetapi dalam porsi yang lebih sedikit. Hal ini berbeda dengan metode-metode lainnya seperti ceramah, tanya jawab, diskusi dan lainnya yang memiliki kecenderungan untuk memberikan materi yang bersifat kognitif.

Penekanan pada afeksi (sikap) siswa merupakan sesuatu yang harus menjadi agenda pendidik. Siswa seringkali memiliki kemampuan kognitif yang baik, tetapi lemah dalam afeksi. Mereka cenderung apatis, dan tidak tergugah hatinya terhadap segala kejadian dan peristiwa yang terjadi di masyarakat karena afeksinya rendah.

Kedua, hubungan dan interaksi antar peserta dalam collaborative learning dapat menjadi wahana bagi anggota kelompok untuk dapat memanfaatkan semua informasi, tanggapan dan berbagai reaksi dari kelompok lain. Artinya, dari metode ini diharapkan siswa mampu mengelola dan menumbuhkan sikap sosial yang baik.

Dan ketiga, kesempatan mengemukakan pendapat, tanggapan dan berbagai reaksipun dapat menjadi peluang yang sangat berharga bagi siswa untuk mengekspresikan segala dinamika psikologis mereka. Kesempatan timbal balik inilah yang merupakan dinamika kelompok yang dapat membawa manfaat bagi seluruh anggota kelompok dalam bekerja sama.

Akhirnya, kemampuan pendidik dalam mengorganisasi kelas merupakan sesuatu yang mutlak harus dimiliki. Dan collaborative learning adalah salah satu alternatif metode yang dapat digunakan, disamping metode-metode lainnya. Selamat mencoba!

Label:

Rabu, 28 April 2010

Parameter Efektifitas Sekolah



Sudah efektifkah seluruh proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah kita? Barangkali inilah pertanyaan yang harus dicermati oleh semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan, mulai dari guru, kepala sekolah, orang tua sampai pada pihak pemerintah selaku pemegang kebijakan (policy maker). Pertanyaan ini semakin relevan ketika berada pada ujung tahun pembelajaran seperti saat sekarang ini.
Jawaban dari pertanyaan tersebut merupakan bagian dari evaluasi program pembelajaran yang berlangsung di lembaga pendidikan. Adalah Peter Mortimore, seorang peneliti pendidikan dari Amerika Serikat yang pertama mewacanakan mengenai sekolah efektif pada tahun 1980-an. Mortimore mengutarakan rumusan tentang sekolah efektif tersebut dalam kertas kerjanya yang berjudul "Key Characteristics of Effective Schools".
Ada tujuh prinsip dasar sekolah efektif, menurut Mortimore, yang dapat dijadikan sebagai karakteristik dalam menilai efektif atau tidaknya sebuah sekolah. Pertama, misi sekolah yang jelas (clear school mission). Misi sekolah yang jelas dapat dijadikan sebagai panduan bagi sekolah dalam memahami komitmen pada tujuan pembelajaran, prioritas, prosedur penilaian, dan akuntabilitas lembaga.
Kedua, iklim ekspektasi yang kuat (high expectations for success). Pihak sekolah berkeyakinan dan menunjukkan bahwa semua siswa dapat belajar dengan baik dan menguasai semua content and skills sesuai dengan target kurikulum yang ada.
Ketiga, kepemimpinan yang tegas dan bertujuan (instructional leadership). Sekolah efektif memerlukan kepala sekolah yang bertindak sebagai instructional leader dan secara efektif mengkomunikasikan misi itu kepada guru, staf, orang tua dan siswa.
Kepala sekolah yang asal-asalan cenderung untuk menghancurkan budaya dan iklim belajar sekolah. Sedangkan kepala sekolah yang efektif selalu komitmen dengan visi dan misi yang mengangkat dan melestarikan kualitas sekolahnya. Kepala sekolah menjadi efektif karena ia mampu menjadi pemimpin yang efektif pula.
Keempat, melakukan pemantauan terhadap prestasi siswa secara teratur (frequent monitoring of student progress). Guru dapat menentukan sejauh mana tujuan sekolah telah dicapai siswa. Sekolah hendaklah berusaha meningkatkan pengetahuan dan kompetensi guru dalam aspek-aspek penilaian dan kaidah mengajar terkini. Berbagai assesment bisa digunakan untuk keperluan ini.
Kelima, mendorong guru untuk memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk belajar dan mempelajari content and skills yang ditentukan (opportunity to learn and student time on task). Guru perlu mendorong siswa untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan merencanakan berbagai aktivitas pembelajaran di dalam dan luar kelas.
Guru-guru di sekolah yang efektif mampu melaksanakan proses belajar mengajar yang bebas dari tekanan dan menyelenggarakan pembelajaran secara bertanggung jawab. Sedangkan di sekolah yang tidak efektif, guru cenderung tidak mendukung pemahaman tujuan sekolah.
Keenam, iklim sekolah ditentukan oleh wawasan, nilai dan tujuan (safe and orderly environment). Iklim sekolah yang baik dipengaruhi oleh suasana pembelajaran dan keadaan sekolah yang tertib dan teratur dengan lingkungan kerja yang menarik, tenang dan harmonis dalam suasana yang berorientasi tugas, di samping kedisiplinan yang merupakan prasyarat bagi pembelajaran efektif.
Ketujuh, hubungan rumah dan sekolah akan meningkatkan efektivitas sekolah (home-school relations). Keefektifan sebuah sekolah sangat dipengaruhi oleh latar belakang rumah tangga tempat asal siswa dan keadaan masyarakat sekeliling sekolah.
Dengan tujuh parameter di atas, maka pihak penyelenggara lembaga pendidikan dapat mengadakan evaluasi institusional (kelembagaan), mulai dari visi dan misi, kualitas guru, kepemimpinan kepala sekolah, kualitas siswa, dan kegiatan yang bersifat administrasi lainnya. Diperlukan kejujuran dalam mengadakan evaluasi ini. Kepentingan yang bukan pada tracknya haruslah dikesampingkan demi tercapainya evaluasi yang efektif.
Dari evaluasi institusional inilah, sekolah dapat mengambil kebijakan efektif lebih lanjut untuk dapat bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya yang sekarang ini semakin berlomba dengan menawarkan berbagai program yang dianggap unggulan.
Pada akhirnya, sekolah yang efektif dalam menyelenggarakan pembelajarannya akan menjadi sekolah idola (favourite) yang tentunya akan diserbu oleh banyak calon siswa baru setiap awal tahun pelajaran dimulai. Dan ketika ini terjadi, maka penyelenggara pendidikan (baik negeri ataupun swasta) akan mendapatkan ”nilai lebih” dari proses pembelajaran yang berlangsung efektif tersebut.
Selamat mengevaluasi! 
Oleh : Abdul Wahid

Label:

Rabu, 14 April 2010

Menanamkan Etika Diniyah Kepada Siswa


Pendidikan adalah upaya manusia dalam rangka menjadikan manusia sebagai mahluk yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan sesamanya. Dalam praktiknya, pendidikan dimaksudkan untuk membuka cakrawala berfikir siswa dan membimbingnya ke arah yang lebih baik sesuai dengan tujuan diciptakannya manusia (fithrah) yaitu sebagai hamba (’abid) Tuhan dan sebaga khalifah-Nya.
Seyogyanya siswa harus diarahkan untuk mengembangkan potensi dirinya dengan bimbingan gurunya. Dalam hal ini guru harus mampu menggali dan memunculkan kreativitas dan sikap kritis siswa terhadap segala dinamika kehidupan yang muncul. Untuk itulah seorang guru sebaiknya menanamkan nilai tauhid dan etika diniyah sejak awal kepada peseta didik sebagai bekal dalam mengarungi hidupnya.
Tauhid merupakan komitmen manusia sebagai mahluk yang dho’if (lemah) dalam menghamba kepada Allah SWT. yang Maha Kuasa sebagai bentuk rasa hormat, dan syukur. Tauhid merupakan sesuatu yang harus ditanamkan sejak awal kepada peseta didik. Dari konsep tauhid-lah hakikat dan tujuan institusional pendidikan seharusnya dirumuskan.
Menurut Fadhil al-Jamali (1992), ada tiga kekuatan dalam tauhid, yaitu: kekuatan ma’rifat, kekuatan perasaan yang sangat halus dan kekuatan iradah al-hasanah. Dengan tauhid yang kokoh, akan menjadikan siswa memiliki orientasi hidup yang jelas.
Selain penanaman tauhid, etika diniyah (hidup beragama) juga harus menjadi perhatian untuk ditanamkan sejak awal. Dalam al-Qur’an paling tidak ada tiga hal yang merupakan bagian dari etika diniyah yang seyogyanya diprioritaskan untuk ditanamkan kepada peserta didik.
Pertama, etika berpakaian, tentang etika ini dijelaskan dalam Q.S. Al-A’raf ayat 26 yang artinya; ”Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan, dan pakaian takwa itulah yang paling baik, yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”.
Kedua, etika bertamu, hal ini dijelaskan dalam Q.S. An-Nur ayat 27 yang artinya; ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin (isti’dzan) dan memberi salam kepada penghuninya, yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu selalu ingat”. Meminta izin (isti’dzan) ketika bertamu ini berfungsi untuk memberitahukan kepada pemilik rumah, sehingga pemilik rumah memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan, apakah akan bersiap-siap menerima ataukah tidak.
Ketiga adalah etika berbicara, hal ini dijelaskan dalam Q.S. al-Hujurat ayat 2 yang artinya ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari”.
Εtika dalam berbicara dimaksudkan agar siswa dapat menempatkan diri dalam kondisi pembicaraan, artinya denga intonasi dan gaya bahasa yang bagaimana yang harus digunakan. Tentunya akan terdapat perbedaan antara berbicara dengan orang tua, guru dan dengan teman sebaya.
Ketiga etika di atas (berpakaian, berbicara dan bertamau), bagi anak-anak kita merupakan hal sangat urgen untuk diberikan pembelajarannya. Kita tidak bisa menutup mata sekarang ini dimana akibat dari penetrasi budaya asing, anak-anak (dan masyarakat pada umumnya) mulai menampakan sikap permisive (acuh tak acuh) terhadap nilai dan etika yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan, baik nilai budaya maupun etika beragama.
Tak jarang kita melihat bagaimana anak-anak kita berperilaku, baik dengan teman sebayanya ataupun dengan orang yang seharusnya dihormati seperti orang tua dan guru, mereka kurang menampakan tata krama dan sopan santun. Ketika bergaul, baik dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenisnya, mereka cenderung untuk meniru model pergaulan ”Barat” sebagaimana yang mereka tonton di TV.
Fakta inilah yang seharusnya menjadi bahan renungan bagi kita yang berprofesi sebagai guru. Guru seyogyanya berupaya untuk menjadikan anak-anak didik sebagai sosok yang ideal sebagaimana yang dicita-citakan dalam kurikulum pendidikan.
Walau bagaimanapun anak-anak kita adalah amanah yang diberikan Tuhan untuk dijaga agar tidak terjerumus dalam perbuatan-perbuatan yang dilarang dan menyimpang. Satu tindakan yang patut dilakukan orang tua dan guru adalah harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Keteladananlah yang mampu menjadi metode paling jitu dalam menanamkan kebaikan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh rasulullah SAW.
Guru adalah pihak yang ikut bertanggung jawab untuk menjaga amanah tersebut dengan cara menanamkan nilai dan etika diniyah kepada siswa, tentunya disamping tanggung jawab yang dipikul oleh orang tua. Semoga anak-anak kita mampu menjadi generasi yang beretika, amiin!

Label:

Kamis, 08 April 2010

sumber paradigma pendidikan Islam

Oleh Abdul Wahid
Pendidikan adalah sebuah upaya yang dilakukan oleh manusia dalam rangka menjadikan manusia sebagai mahluk di bumi ini yang dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri dan sesamanya. Idealitas dari output sebuah proses pendidikan adalah melahirkan manusia yang manusiawi bukan sebaliknya manusia yang cenderung bersifat hewani. Satu hal yang menentukan arah pengembangan dalam pendidikan adalah sumber paradigma apa yang digunakan sebagai landasan dalam mengembangkannya.
Sekarang ini, masyarakat (terutama di Indonesia) mengelompokan pendidikan dalam dua kelompok, yaitu pendidikan Islam dan pendidikan Barat. Keduanya sudah berjalan dan menghasilkan produk pendidikan yang berbeda pula. Pertanyaannya adalah dimana letak perbedaan yang mendasar antara keduanya? Inilah pertanyaan yang akan dicoba untuk dijawab penulis dengan menitikberatkan pada paradigma pendidikan tauhid yang dipegang oleh pendidikan Islam.
Yang membedakan antara pendidikan Barat dengan pendidikan Islam adalah pada sumber paradigma pendidikan yang digunakan oleh keduanya. Pendidikan Barat menggunakan konsep pendidikan yang tidak berdasarkan transendensi wahyu, sangat mengedepankan rasio sehingga menghasilkan sebuah konsep pendidikan yang anthroposentris, artinya berorientasi pada manusia semata tanpa memperhatikan aspek keakhiratan. Konsep yang semacam ini mengakibatkan output pendidikan yang dihasilkan adalah output yang tidak memiliki nilai ketuhanan dan menganggap ilmu pengetahuan yang dihasilkan adalah bebas nilai (free value).
Sedangkan Pendidikan Islam menggunakan transendensi Ilahi dan intervensi wahyu dalam mengembangkan konsep pendidikannya sehingga melahirkan pola pembinaan yang teosentris (bersifat keilahian) dengan tetap memberikan porsi yang proporsional pada rasionalitas manusia yang telah dianugerahkan Tuhan. Konsep semacam ini sangat jelas kelihatan dalam opersional pendidikan Islam yang selalu mengedepankan aturan-aturan Tuhan dalam al-Qur’an dan Hadits dalam mengambl setiap kebijakan yang akan dijadikan sebagai paradigmanya, sekali lagi dengan tetap menggunakan rasio sebagai sarana menganalisis secara proporsional.
Perbedaan sumber paradigma pendidikan tersebut mengakibatkan terjadinya perbedaan cara berpikir antara keduanya dalam menghadapi persoalan pendidikan yang timbul dalam kehidupan. Al-Qur’an merupakan sumber kerangka berpikir bagi umat Islam, didalamnya mengajarkan bagaimana seharusnya proses pendidikan berjalan.
Sebagai contoh dalam al-Qur’an dapat disebutkan disini adalah kisah Luqman. Di dalamnya terdapat sebuah pelajaran tentang potensi agama (fitrah al-diin/tauhid) yang dimiliki manusia, yang merupakan bekal kehidupan yang seharusnya dikembangkan dalam pendidikan.
Panekanan konsep fithrah manusia yang cenderung pada tauhid merupakan hal yang sangat fundamental, karena fithrah manusia sejatinya adalah sebuah kekuatan ruhani yang luar biasa yang jika dikembangkan dengan benar akan menghasilkan kekuatan yang besar pula.
Dalam pandangan Nabi Muhammad SAW, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dinyatakan bahwa: “manusia dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka tergantung kepada kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya orang Majusi, Yahudi ataukah Nasrani”. Dari hadits ini jelas memberikan sebuah pelajaran yang berharga bahwa pada hakikatnya lingkungan akan dapat memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menjaga kefithrahan manusia. Dari sinilah kemudian pendidikan Islam berangkat dengan memberikan nilai-nilai ketuhanan yang mengusung konsep tauhid kepada peserta didiknya.
Tauhid merupakan sesuatu yang harus ditanamkan sejak awal kepada peseta didik. Dari konsep tauhidlah hakikat dan tujuan institusional pendidikan seharusnya dirumuskan. Sebagai sumber paradigma pendidikan Islam, tauhid lebih bersifat emansipatoris, yakni berusaha melepaskan manusia dari penghambaan terhadap tuhan selain Allah dan penghambaan terhadap segala macam kungkungan. Dengan tauhid yang diungkapkan dalam bentuk syahadat kepada Allah dan rasulnya, merupakan sebuah ekspresi kemerdekaan manusia yang sesungguhnya dari berbagai macam belenggu.. Kebebasan inilah sesungguhnya yang menjadi kekuatan manusia untuk berkembang lebih baik dalam menjalani kehidupan ini.
Tauhid berarti juga komitmen manusia sebagai mahluk yang dho’if (lemah) menghamba kepada Allah SWT. yang Maha Kuasa sebagai bentuk rasa hormat, syukur dan satu-satunya sumber nilai yang valuable bagi sesama muslim yang tidak menerima otoritas dan petunjuk apapun kecuali dari-Nya.
Menurut Fadhil al-Jamali (1992: 125), ada tiga kekuatan dalam tauhid, yaitu: kekuatan ma’rifat, kekuatan perasaan yang sangat halus dan kekuatan iradah al-hasanah. Dari tiga kekuatan tersebut, tauhid menekankan aspek ruhaniyah dan jasmaniyah sekaligus, yang merupakan kemampuan yang mengintegrasikan antara berfikir, merasa dan berkehendak serta aktualisasi amaliyah dari kekuatan tersebut. Dengan kata lain tauhid berusaha menyatukan aktifitas manusia sehari-hari dalam ketundukannya kepada Allah SWT.
Bila dalam kenyataan sekarang menunjukan bahwa dunia pendidikan Islam masih saja terpolakan pada istilah pelajaran agama Islam dengan pelajaran non agama Islam, dimana pelajaran agama Islam yang tidak ditransformasikan untuk kepentingan sosial kemasyaraktan pada satu sisi, dan pelajaran non agama yang tidak dijadikan sarana pendidikan iman dan moral, maka berarti visi kita tentang Islam dengan segala dimensi ajarannya belum setajam yg dituntut oleh al-Qur’an, maka sudah barang tentu tugas kita adalah merubah status quo yang terpolakan itu dengan berani dan penuh tanggung jawab.
Polarisasi atau dikotomi antara pelajaran agama Islam dan non agama Islam merupakan sesutu yang tidak sejalan dengan paradigma tauhid dalam pendidikan Islam. Allah SWT. telah menurunkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta ini, dimana setiap dimensi dan aspek kehidupan berhak untuk mendapatkan cahaya Islam yang sejati. Polarisasi tersebut akan mengakibatkan sebuah sikap yang merasa diri lebih Islami pada satu sisi, dan merasa kurang (atau bahkan tidak) Islami di sisi lain. Jika hal ini terjadi maka akan menjadikan Islam kurang menjadi rahmat bagi semesta alam ini.
Jadi, pendidikan Islam haruslah menjadikan tauhid sebagai sumber paradigmanya sehingga melahirkan konsep-konsep pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan dengan tidak perlu mengadakan dikotomi antara pelajaran agama Islam dan non Islam. Kemudian konsep tersebut diwujudkan dalam mengambil kebijakan-kebijakan pendidikan sehingga melahirkan institusi-institusi pendidikan Islam yang mampu bersaing dengan institusi lainnya.


Label: