Selasa, 27 Juli 2010

Nilai Kemanusiaan Manusia

Allah SWT. telah menempatkan manusia pada posisi yang tinggi dibandingkan dengan mahluk yang lain. Karena hal inilah manusia diberi pendengaran untuk menangkap irama alam semesta. Dijadikan penglihatan untuk menerjemahkan warna-warni alam dalam berbagai nuansa dan harmoni. Dibekali dengan hati sebagai instrumen perasa sensitif untuk menganalisa semua yang terjadi. Serta, manusia dibekali dengan otak sebagai sarana intelegensia sehingga dapat meneliti dan mengamati segala fenomena alam.

Maha suci Allah dengan segala ciptaan-Nya, yang tidak ada kebathilan dalam segala bentuk mahluk yang diciptakan-Nya. Akan tetapi manusia jarang sekali mensyukuri segala karunia yang diterimanya. Manusia cenderung takabur terhadap segala macam atribut yang menempel pada dirinya. Atribut harta, benda, jabatan, dan segala macam bentuk keduniaan lainnya.

Allah SWT berfirman : “Katakanlah; Dia-lah yang menciptakan kamu pendengaran, penglihatan dan hati (tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (Q.S Al-Mulk: 23)

Tidak hanya itu Allah ta’ala juga memberi manusia kelebihan-kelebihan lain jika dibandingkan mahluk Allah yang lain, yaitu nilai kemanusiaan.

Nilai “kemanusiaan” manusia mengandung sebuah makna bahwa manusia bisa saja bernilai tidak seperti manusia semestinya, bahkan Allah SWT. pernah mensinyalir bahwa ketika manusia tidak dapat memfungsikan semua pemberian yang Tuhan berikan maka manusia ibarat binatang ternak bahkan lebih buruk.

Berikut adalah nilai lebih yang dimiliki manusia:

1. Manusia adalah mahluk paling baik bentuknya

Firman Allah: “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (Q.S. At-Tiin (95): 4).

Kesempurnaan manusia dari segi fisik tampak jelas. Postur tubuh yang sangat sempurna jika dibandingkan dengan mahluk lainnya. Cobalah kita tengok mahluk-mahluk Allah yang terdapat di kebun binatang, pasti kita menyimpulkan manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna.

2. Manusia adalah mahluk yang paling mulia

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam”. (Q.S.Al-Isra (17): 70) . Kemuliaan yang dimiliki manusia adalah kemuliaan yang Allah berikan sejak manusia lahir, artinya kemuliaan manusia adalah by nature.

3. Mahluk yang paling dilebihkan

“.. Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah Kami ciptakan”. (Q.S. Al-Isra (17):70)

4. Mahluk yang paling cerdas

Allah telah mengajarkan kepada Adam AS sebagai bapaknya manusia nam-nama benda, firman-Nya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya.....”(Q.S.Al-Baqarah (2):31). Manusia dibekali dengan volume otak yang sangat besar jika dibandingkan dengan mahluk lainnya.

5. Mahluk yang paling agung

Predikat ini diberikan karena Allah SWT. telah menundukan alam beserta isinya untuk manusia. “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana sesungguhnya Allah SWT telah menundukan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan dibumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin “ (Q.S. Luqman (31): 20).

Nilai “kemanusiaan“ manusia sesungguhnya harus nampak dalam keseharian manusia berupa perilaku yang baik dan sholih. Demikianlah beberapa nilai “kemanusiaan” manusia yang harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Jika tidak, maka manusia bahkan lebih buruk dari binatang.

Label:

Rabu, 07 Juli 2010

Manusia yang Mulia

''Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberikannya kesenangan, maka dia berkata, 'Tuhanku telah memuliakanku'. Namun, bila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, 'Tuhanku telah menghinaku'.'' (Q.S. Al-Fajr [89]: 15-16).

Semua orang ingin hidupnya mulia dan bahagia di dunia maupun di akhirat. Setiap muslim selalu berdoa, “robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ‘adzabannar”. “Ya Tuhan kami, anuugerahkanlah kepada kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat serta jauhkanlah kami dari siksa api neraka”.

Tak ada seorang pun yang ingin hidupnya sengsara apalagi terhina. Namun, kita sering keliru dan salah persepsi dalam menggolongkan siapa yang disebut orang yang mulia dan siapa orang yang hina. Pandangan sebagian besar orang dalam mengukur kemuliaan hanya dari segi materi berupa harta kekayaan, memiliki rupa yang tampan atau cantik, ataupun menduduki jabatan yang tinggi.

Padahal, materi tidak dapat secara mutlak dijadikan tolok ukur seseorang itu mulia atau hina. Materi hanyalah sebagian kecil saja dari beberapa komponen yang menjadikan manusia merasa bahagia dan mulia dalam hidupnya

Rasulullah SAW bersabda, ''Kemuliaan dunia adalah kekayaan dan kemuliaan akhirat adalah ketakwaan. Kamu, baik laki-laki maupun perempuan, kemuliaanmu adalah kekayaanmu, keutamaanmu adalah ketakwaan, kedudukanmu adalah akhlakmu, dan (kebanggaan) keturunanmu adalah amal perbuatanmu.'' (H.R. Adailami).

Orang yang mulia selalu menyambung tali persaudaraan dalam setiap kondisi, menebarkan salam, memperhatikan urusan kaum Muslimin, memelihara kemaluan, beraktivitas dan berusaha mengamalkan kebajikan. Selain itu juga melakukan amar ma'ruf nahi munkar, bersegera melakukan kebajikan, dan takut mendapatkan siksa akibat ketamakan.

Ciri lain yang mononjol pada kepribadian orang mulia adalah beriman kepada Allah SWT dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. (Q.S. Al-Ashr [103]: 3). Men-dawam-kan (membiasakan) ibadah qiyamul lail (sholat malam atau tahajud). Allah berfirman, ''Dan pada sebagian malam bershalat tahajjudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang mulia.'' (Q.S. Al-Isra' [17]: 79).

Hal lain yang menjadi parameter orang yang mulia adalah ia memiliki ilmu pengetahuan. Orang yang memiliki ilmu pengetahuan hidupnya akan mulia. Ini dijamin Allah sebagaimana tercantum dalam Alquran, ''Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.'' (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 11).

Mudah-mudahan dengan rutinitas ibadah dan aktivitas hidup kita dapat menjadikan kita semakin bertakwa, sehingga Allah SWT. memuliakan hidup kita. Karena, orang yang paling mulia di sisi Allah SWT. adalah orang yang paling bertakwa.

Label:

Jumat, 25 Juni 2010

Husnudzon Kepada Allah

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah SWT mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah [2]: 216).

Ayat tersebut mengindikasikan bahwa manusia memiliki pengetahuan yang sedikit tentang segala sesuatu yang terjadi. Allahlah yang mengetahui dibalik segala sesuatu yang terjadi. Manusia terkadang mendahulukan nafsunya, sehingga ketika menerima kenyataan hidup yang berbeda dengan yang ia harapkan, ia mencari sesuatu yang dapat dijadikan sebagai pelampiasan kesalahan (mencari kambing hitam).

Allah pun tidak luput dari tuduhan buruk manusia. Allah bahkan sering disalahkan sebagai tuhan yang tidak memberikan taqdir terbaik kepadanya. Lantas, bagaimana seharusnya manusia menyikapi ketentuan Allah SWT.? Jawabannya adalah husnudzon atau baik sangka kepada taqdir Allah SWT.

Musibah merupakan kejadian yang sering menyebabkan manusia suudzon (buruk sangka) kepada Allah. Musibah hanya dianggap sebagai sesuatu yang menyakitkan dan menghinakan manusa.

Padahal, musibah paling tidak memiliki tiga makna. Pertama, musibah sebagai hukum sebab akibat. Artinya musibah yang terjadi adalah akibat dari ulah manusia sendiri, seperti banjir, tanah longsor, wabah penyakit. Itu semua disebabkan karena manusia tidak serius dalam mengelola alam dan berpaling pada aturan yang telah ditetapkan-Nya. "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah SWT, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka itu adalah dari kesalahan dirimu sendiri. (QS An-Nisa [4]: 79).

Kedua, musibah merupakansarana penebus dosa. Allah SWT menghendaki datangnya musibah berupa kesusahan, rasa sakit, kekurangan harta, dan kematian tidak lain sebagai penghapus dosa hamba-hambanya. "Apabila Allah SWT menghendaki kebaikan bagi hamba-hambanya, maka didahulukan baginya hukuman di dunia dan bila Allah SWT menghendaki keburukan, maka dibiarkan dengan dosa-dosanya, sehingga dosa-dosanya itu dibalas pada hari kiamat." (HR Abu Daud).

Ketiga, musibah adalah ujian untuk kenaikan derajat di sisi-Nya. "Sesungguhnya orang-orang saleh akan diperberat (musibah) atas mereka. Dan tidaklah seorang Mukmin tertimpa suatu musibah, seperti tertusuk duri, atau lebih ringan dari itu, kecuali akan dihapuskan dosa-dosanya dan ditingkatkan derajatnya." (HR Ahmad, Ibnu Hiban).

Dalam hadits Qudsi disebutkan, "Siapa saja yang tidak rela terhadap ketetapan-Ku dan tidak berlaku sabar terhadap cobaan-Ku dan tidak bersyukur terhadap nikmat-nikmat-Ku, maka carilah olehmu Tuhan selain Aku."

Tak ada cara lain kecuali berserah diri kepada Allah SWT, berprasangka baik dan selalu beristighfar memohon ampun kepada-Nya. Karena, bisa jadi yang tidak kita sukai justru baik bagi kita, sebaliknya, bisa jadi yang kita sukai justru akan mencelakakan kita. Semoga kita senantiasa menjadi hamba yang sabar dan selalu husnudzon terhadap ketentuan Allah SWt.

Label:

Rabu, 16 Juni 2010

Ikhlas Dalam Hidup

Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Rabb kami dan Rabb kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskankan hati". (Q.S. AlBaqarah; 2: 139), demikian salah satu ayat yang menjelaskan kewajiban untuk ikhlas dalam hidup.

Ikhlas adalah ruh bagi setiap aktivitas orang yang beriman. Ikhlas diwujudkan dalam niat yang lurus, bahwa pekerjaan yang dilakukannya hanya mencari ridha Allah SWT.

Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, dan lebih bermakna. Sebagaimana peristiwa Ali bin Abi Thalib dalam suatu peperangan berhadapan satu lawan satu dengan kaum kafir Quraisy. Dari pasukan kaum muslim majulah Ali bin Abi Thalib ke tengah arena melawan seorang jago dari kaum kafir Quraisy, keduanya merupakan jago perang yang diandalkan.

Dengan kehebatannya, mereka menegeluarkan keahlian masing-masing, sehngga pertempuran berjalan sangat imbang. Akhirnya Ali dapat menjatuhkan lawannya. Disaat Ali akan menebas leher lawan yang terjatuh itu, saat itu pula lawannya meludahi wajah Ali, sehingga Ali sangat marah, mukanya telihat merah, tetapi anehnya Ali menarik pedangnya dan tidak jadi membunuh lawannya.

Para sahabat kaget dan bertanya: "Wahai Ali, kenapa engkau tidak jadi membunuh lawanmu"? Dengan tenang Ali menjawab, "Semula aku akan membunuhnya karena ingin mencari ridha Allah, tetapi disaat dia meludahi wajahku, aku takut, aku membunuhnya tidak lagi karena Allah tetapi karena kemarahan dan kebencian, saya takut pekerjaanku tidak diterima di sisiNya, karena itu aku tarik lagi pedangku dari lehernya", jawab Ali bin Abi Thalib.

Dalam Islam, setiap akan melakukan aktivitas terlebih dahulu harus niat dalam hati bahwa pekerjaan yang dilakukan itu merupakan manifestasi ibadah kepada Allah SWT, dan mencari ridhoNya.

Apapun yang dilakukan, kalau tujuan kita hanya kepada Allah, itulah ibadah yang ikhlas. Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun. Allah Mahatahu segala lintasan hati, dan Mahatahu segalanya!

Seorang hamba yang ikhlas (mukhlish) akan merasakan ketentraman jiwa, dan ketenangan batin. Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi sesuatu yang tidak enak. Lebih tidak enak lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji orang.

Seorang mukhlish tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa ia dipersembahkan dan ridha Allah semata.

Label:

Rabu, 14 April 2010

Menggapai Hidayah

Oleh Abdul Wahid


Dalam Islam, hidayah menjadi sebuah kunci dalam membuka kotak besar kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Seorang muslim harus mati-matian menjaga hidayah-Nya karena hidup tidak akan selamat kecuali dengan hidayah dan taufiq dari Allah Yang Maha Agung. Inilah harta paling mahal yang perlu kita jaga. Betapa nikmat iman yang bersemayam di dalam qalbu melampaui apapun yang bernilai di dunia ini.

Karenanya, sudah sepantasnya dalam mencari apapun di dunia ini, kita tetap dalam rambu-rambu hidayah. Dalam surat Al-Fatihah yang setiap saat kita baca dalam sholat, Allah membimbing kita agar senantiasa memohon petujuk-Nya agar di tunjukan pada jalan yang benar, ”ihdina ashirotha al mustaqiim”. (Q.S. al-Fatihah: 6)

Ada sebuah doa yang Allah ajarkan kepada kita melalui firman-Nya, "Robbanaa, laa tuzigh quluu banaa ba’da idz hadaitana wahablana min ladunka rahmatan innaka anta alwahhaab…" (Q.S. ali-Imran: 8). (Ya Tuhan kami, jangan jadikan hati ini condong kepada kesesatan sesudah engkau beri petunjuk, dan karuniakan kepada kami rahmat dari sisimu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Karunia).

Demikianlah Allah Azza wa Jalla, Dzat Maha Pemberi hidayah, mengajarkan kepada kita agar senantiasa bermohon kepada-Nya sehingga selalu tertuntun dengan cahaya hidayah. Tidak bisa tidak, doa inilah yang harus senantiasa dipanjatkan di malam-malam hening kita, dan di setiap getar-getar doa yang meluncur dari bibir kita.

Hidayah merupkan sesuatu yang bersifat aktif. Manusialah yang menentukan sebagian besar dari pencapaian hidayah yang dijanjikan-Nya. Hidayah tidak akan turun di tempat ma’shiyat. Tetapi turun di tempat orang berbuat kebaikan dan amal sholih.

Hidayah sering diibaratkan dengan nur (cahaya). Kita mafhum bahwa cahaya adalah sesuatu yang dapat menerangi manusia dari kegelapan. Begitupun hidayah, ia akan memberikan penerangan kepada hambanya, agar terbebas dari kegelapan dan kejahilan dalam hidupnya.

Imam Ibnu Athoillah dalam kitabnya yang terkenal Al Hikam memaparkan, "Nur iman, keyakinan, dan zikir adalah kendaraan yang dapat mengantarkan hati manusia ke hadirat Allah serta menerima segala rahasia daripada-Nya. Nur itu sebagai sesuatu yang membantu hati, sebagaimana gelap itu sesuatu yang membantu hawa nafsu. Maka apabila Allah akan menolong seorang hamba-Nya, dibantu dengan nur Ilahi dan dihentikan dengan bantuan kegelapan dan kepalsuan.”

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan kepada cahaya hidayah sehingga bisa menjadi penerang jalan hidup ini.

Label:

Minggu, 28 Maret 2010

ibadah dengan rasa cinta

oleh abdul wahid
Seorang muslim terkadang menjadikan ibadah sebagai sarana untuk mendulang pahala sebanyak mungkin, sehingga ia berharap mendapatkan balasan dari Allah SWT berupa surga dan terhindar dari neraka.
Berkaitan dengan hal ini ada sebuah dialog menarik antara Nabi Muhamad SAW dengan sahabatnya. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad: “Apakah seorang mukmin akan dapat masuk surga dengan mengandalkan pahala yang ia peroleh dari ibadahnya?” Beliau menjawab; “Tidak!”. Selanjutnya Beliau bersabda; ”Tidak juga Aku, kecuali Allah telah memayungiku dengan rahmat dan pengampunan-Nya”.
Namun demikian, dengan sifat rahman dan rahim, serta ghofur-Nya, Allah SWT. menjanjikan sebuah reward (hadiah) bagi mereka yang mencintai-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. ali- Imran: 31: ”Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. ali-Imran : 31)
Hamba yang berusaha mencintai-Nya, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenal-Nya. Sidi Abdul Qadir menyebutkan tiga tahapan pengenalan seorang hamba terhadap Allah SWT.
Pertama, melalui sifat-sifat-Nya. Dengan mengenal sifat-sifat Allah, baik sifat jalaliyah (keperkasaan) maupun jamaliyahnya (kemurahan dan kelembutan), maka akan menjadikan manusia lebih akrab dengan Allah.
Kedua adalah dengan mengenal nama-nama-Nya sebagaimana tercantum dalam asma al-husna akan memberikan kekuatan ketika ia berdo’a. Hal ini Allah kemukakan dalam Q.S. al -A’raf : 180; “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S.al A’raf : 180)
Dan ketiga, mengenal af’al-Nya. Af’al dapat diartikan sebagai perbuatan-perbuatan-Nya, artinya dengan mengenal perbuatan Allah berupa ciptaan-ciptaan-Nya akan menjadikan manusia merasa lebih dekat dengan Allah.
Dalam pandangan Quraish Shihab, pamrih atau tujuan dalam beribadah kepada Allah adalah sesuatu yang dibolehkan, karena tujuan disamping merupakan tujuan utama dapat juga menjadi “jalan yang mengantar” ke tujuan yang lebih utama.
Rabi’ah Al-Adawiyah tidak menerima tujuan lain dalam beribadah, kecuali atas dasar cinta (mahabbah) kepada Allah SWT. Sehingga apapun yang dilakukan maka dasarnya adalah harus karena cinta, bukan karena takut atau karena mengharap sesuatu.
Rasa cinta (mahabbah) kepada Tuhan seyogyanya merupakan sebuah kesatuan tak terpisahkan dengan ibadah yang dilakukan.
Ketika rasa cinta kepada Allah sudah melekat dalam hati hamba, maka perintah dan larangan dalam al-qur’an maupun hadits tidak dianggapnya sebagai beban yang memberatkan, melainkan menjadi sarana untuk mewujudkan rasa cintanya.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana cara menumbuhkan mahabbah (rasa cinta) dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT. maka paling tidak ada tiga langkah yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim.
Pertama, riyadhoh, yaitu latihan atau pembiasaan dalam menjalankan macam-macam ibadah. Kedua, mujahadah, yaitu kesungguhan untuk mencintai. Dan ketiga, menumbuhkan rasa bangga dalam berislam.
Demikianlah, sekelumit tentang beribadah yang didasari oleh mahabbah (rasa cinta) kepada Allah SWT. mudah-mudahan kita semua mampu menjadi orang yang selalu mahabbah kepada Allah SWT. amiin...

Label:

Kamis, 25 Februari 2010

Rumahku Surgaku

RUMAHKU SURGAKU

(INDIKATOR KELUARGA SAKINAH) *

“Rumahku Surgaku”, inilah ungkapan sederhana rasul ketika menjelaskan kondisi keluarganya. Dengan kondisi keluarga beliau yang penuh dengan kesederhanaan, ternyata beliau tetap berucap bahwa rumahku adalah surgaku. Pertanyaannya adalah mengapa rasul mampu untuk itu? Maka jawabannya adalah karena rasul mencintai pasangan hidup dan semua anggota keluarganya.

Cinta seorang suami kepada istrinya, dan sebaliknya, merupakan bibit yang harus ditumbuhkembangkan dalam membina rumah tangga. Apapun kondisi keluarga yang dihadapi. Sebagaimana keimanan, maka rasa cinta juga mengalami fluktuatif (naik dan turun). Antara cinta dan iman merupakan sesuatu yang tidak berbeda. Keduanya merupakan bahasa hati dan jiwa yang dimiliki manusia. Iman merupakan ungkapan jiwa manusia terhadap keberadaan tuhannya, sedangkan cinta dalam pengertian secara khusus merupakan ungkapan jiwa untuk sesamanya. Dalam arti yang lebih luas, pendefinisian cinta ini akan merambah kemana-mana, akan tetapi dalam tulisan ini dibatasi pada hubungan sesama manusia.

Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami yang mencintai istri dan anak-anaknya juga mengalami hal yang sama, yaitu naik dan turun. Uangkapan di atas mungkin dapat diralat menjadi, cinta seorang suami kepada istrinya dan juga sebaliknya akan mengalami fluktuasi. Kenapa penulis kemudian menghilangkan unsur anak? Maka jawabannya adalah karena orang tua mustahil untuk tidak mencintai anaknya.

Kenapa kita sering mendengar berita ada orang tua yang menganiaya anaknya? Itu barangkali kejadian yang sifatnya sangat sangat kecil persentasenya, atau mungkin orang tua yang melakukannya adalah mereka yang tergolong ke dalam kelompok orang tua yang punya gangguan jiwa.

Kembali pada naik turunnya cinta seorang suami kepada istrinya dan istri kepada suaminya. Seorang suami dan istri merupakan pasangan yang berasal dari keluarga dan latar belakang yang sangat berbeda. Hal ini menyebabkan mereka mempunyai karakter dan kebiasaan yang berlainan pula. Tekad untuk membentuk sebuah keluarga yang harmonis atau sakinahlah yang menjadi bibit cinta mereka.

Namanya juga bibit, maka ia akan tumbuh berkembang menjadi besar dan berbuah atau sebaliknya ia kering dan akhirnya mati. Faktor yang mempengaruhinya adalah sejauh mana pemeliharaan dari sang empunya bibit tersebut, apabila ia siram tiap hari dan dikasih pupuk, maka insya Allah akan tumbuh subur dan menghasilkan buah yang diinginkan, akan tetapi jika yang empunya lalai untuk menyiram dan memberi pupuk maka bibit akan kering dan mati.

Seorang suami dan istri jika ingin mendapatkan sebuah cinta diantara mereka yang harmonis, maka yang harus dilakukan adalah “menyiram” dan “memupuk” bibit cinta yang telah ada. Ada beberapa hal yang patut dilakukan dalam rangka menumbuh kembangkan cinta yang telah ada, dan ini nantinya akan berimplikasi pada kesehatan mental suami istri tersebut, yaitu:

  1. Merasa Amanah

Ikatan suami istri yang terjalin harus diyakini oleh keduanya sebagai sebuah amanah yang Allah titipkan kepada mereka. Keyakinan ini akan berdampak pada satunya visi mereka dalam mengarungi bahtera kehidupan, sehingga apapun aral melintang yang menghadang, maka mereka akan siap menghadapinya.

  1. Saling Percaya

Kepercayaan dari pasangan hidup merupakan modal utama dalam hidup berumah tangga. Seorang istri percaya kepada suaminya ketika beraktifitas di luar rumah, begitupun suami percaya kepada istrinya ketika ditinggalkan di rumah. Hal ini akan menyebabkan suami tenang menjalankan semua tugasnya, dan istri merasa lega melepas kepergian suami ke luar rumah.

  1. Menerima apa adanya dan saling memahami kondisi pasangan (deep understanding).

Menerima apa adanya adalah sebuah respon positif yang harus dikembangkan. Suami istri merupakan manusia biasa yang tentunya memiliki keterbatasan. Apapun yang ada dan terjadi sekarang ini, maka itulah adanya yang harus diterima dan dinikmati. Ketika perasaan untuk menerima apa adanya ini tidak ada, maka yang akan timbul adalah rasa tidak puas, apalagi yang dijadikan pembanding adalah mereka yang berada pada strata yang lebih tinggi.

  1. Tidak suka mencari-cari kesalahan dan kekurangan pasangan, tetapi sebaliknya pandai melihat kekurangan dan kesalahan diri.

Seorang suami dan istri harus selalu melihat sisi positif dari pasangannya, tidak sebaliknya melihat yang negatif. Akibat yang akan timbul jika selalu melihat yang negatif dari pasangannya adalah adanya ketidakpuasan dan perselisihan, karena a merasa lebih dibanding pasangannya. Yang seharusnya dilakukan adalah saling mencari kekurangan masing-masing, setelah itu bicarakan diantara keduanya dan cari jalan pemecahan dari kekurangan tersebut.

  1. Memiliki kendali diri yang kuat di kala menghadapi situasi kritis

Pengendalian diri merupakan kata kunci dalam rumah tangga. Ketika semua unsur dalam keluarga sudah mampu untuk mengendalikan dirinya, maka keharmonisan akan tercapai. Bahkan Nabi pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim, “Ada empat situasi kritis yang Allah mengharamkannya masuk neraka dan menjauhkannya dari syetan yaitu orang yang dapat menguasai diri ketika senang, susah, nafsu syahwatnya yang memuncak, dan marah”

Kelima hal tersebut diatas menurut hemat penulis akan mampu menjadi pupuk bagi tumbuh kembangnya cinta suami dan istri dalam sebuah rumah tangga, sehingga bisa mewujudkan sebuah keluarga harmonis yang sakinah yang didasari rasa cinta diantara semua anggota keluarga tersebut.

Begitu berat tantangan keluarga pada zaman sekarang ini. Penetrasi budaya dan aliran informasi yang tak terbendung mengakibatkan rentannya daya tahan dari sebuah rumah tangga. Tiap hari mereka disuguhi dengan berita-berita tentang perceraian dan perselingkuhan dalam berbagai infotainment yang tak terhitung jumlahnya di media massa. Disadari atau tidak asupan informasi tersebut akan masuk dalam diri dan membuat sebuah pencitraan bahwa apa yang terjadi tersebut (konflik rumah tangga) merupakan hal yang biasa yang tidak perlu dirisaukan.

Na’udzu billah dari sikap tersebut. Maka sudah seharusnyalah sebuah keluarga muslim mengkondisikan keluarganya sehingga terhindar dari konflik rumah tangga, yang pada akhirnya akan berdampak negatif pada generasi mendatang yaitu anak-anak kita.

* artikel ini dimuat di Media Pembinaan Edisi Juni 2008

Label: