Selasa, 03 Mei 2011

DETEKSI DINI GERAKAN NII

Beberapa hari belakangan kita dikejutkan  berita di media massa berkaitan dengan hilangnya beberapa orang mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Jawa Timur yang ditengarai diculik oleh kelompok  NII (Negara Islam Indonesia).  
NII bukanlah kelompok baru, melainkan reinkarnasi dari DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). DI adalah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 oleh S.M Kartosoewirjo di Tasikmalaya. Gerakan ini bertujuan menjadikan  Indonesia sebagai negara teokrasi dengan  Islam sebagai dasar negara.
Menurut NII, NKRI sekarang, adalah Negara kafir karena tidak menggunakan hukum Islam sebagaimana yang difahami mereka. Dalam perkembangannya sekarang, NII eksis  dengan cara bergerilya merekrut anggota, dan sasarannya adalah pelajar dan mahasiswa.
Dalam beberapa kejadian penculikan, NII menggunakan cara pencucian otak (brain wash) untuk meyakinkan anggotanya agar  masuk dalam kelompok mereka.
            Secara umum karakteristik ajaran yang dipropagandakan kelompok ini adalah, pertama, mengkafirkan orang diluar kelompoknya, karena dianggap tidak menjalankan hukum Islam. Kedua, mengajak  hijrah dari NKRI ke NII, ini merupakan analogi  hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Ketiga, menyuruh  untuk mengumpulkan dana perjuangan (jihad) dengan cara apapun, termasuk  harta orang tuanya. Orang tua dianggap kafir sehingga  halal harta dan jiwanya untuk diambil (dicuri).
            Ketika kita   mendapati gejala di atas, maka sudah saatnya untuk mewaspadainya. Upaya yang dapat dilakukan  adalah dengan pemahaman agama yang benar berkaitan dengan ketiga ajaran mereka.  
Pertama, ketika orang sudah bersyahadat, maka ia adalah muslim, terlepas dari bagaimana kualitas ibadahnya. Iman dan kafir bukan didasarkan pada kelompok atau gerakannya, melainkan pada kesungguhannya dalam menjalankan perintah Allah.
Kedua, hijrah sekarang ini adalah hijrah dalam artian ruhani dan jiwa, Dan ketiga, Islam tidak menghalalkan segala cara dalam mencapai suatu tujuan, termasuk dalam mengumpulkan dana. Dalam Islam ada aturan halal dan haram yang harus diperhatikan. Orang tua adalah sosok yang harus ditaati dan dihormati, bahkan ketika beda pendapat dan keyakinan sekalipun.
            Pemahaman keagamaan yang benar diharapkan akan dapat menjadi bekal dalam menghadapi bujukan dan rayuan pihak tertentu yang akan menjerumuskan. Inilah  PR kita bersama.

Label:

Selasa, 26 April 2011

MENJADI 'KARTINI' DI MASA KINI


Peringatan hari lahirnya Raden Ajeng Kartini, atau yang populer dengan R.A. Kartini, pada tanggal 21 April setiap tahunnya menjadi sebuah rutinitas yang cenderung kering nilai dan makna. Acara seremonial ini dilakukan hanya sebatas upacara-upacara yang menggunakan baju tradisional. Biasanya remaja putri dan ibu-ibu yang sibuk pada momen ini.
Peringatan Hari Kartini biasanya ramai di sekolah-sekolah, mulai dari TK sampai SLTA. Di tingkat perguruan tinggi biasanya sudah sangat jarang, hal ini terjadi karena para mahasiswa kebanyakan menganggap bahwa peringatan hari Kartini merupakan agenda anak-anak sekolah saja.
Tentu kita mengharapkan sesuatu yang positif dari kegiatan ini. Artinya, ada manfaat atau hikmah yang bisa diambil oleh anak-anak kita di sekolah, dan masyarakat kita pada umumnya (terutama kau perempuan) dari peringatan hari lahir R.A. Kartini tersebut.
R.A. Kartini adalah seorang putri bangsawan yang berupaya untuk mengangkat derajat kaum perempuan yang terbelenggu oleh tradisi masyarakatnya. Upaya emansipasi yang dilakukan oleh Kartini diketahui dari curahan hatinya melalui surat-menyurat yang dilakukannya dengan seorang bangsawan Belanda.
Seorang perempuan pada saat itu hanya diposisikan pada kelas yang ke sekian di bawah bayang-bayang laki-laki. Perempuan tidak dizinkan oleh orang tuanya untuk sekolah dan menuntut ilmu yang tinggi sebagaimana kaum laki-laki. Begitu pula dalam hal kiprah di masyarakat, perempuan dianggap tidak mampu untuk mengemban tugas sosial kemasyarakatan, seperti menjabat sebagai carik (juru tulis), punggawa keraton (petugas keamanan), demang (jabatan politik di tingkat kecamatan), dan sejenisnya
Hal ini dikarenakan masyarakat menganggap bahwa peran perempuan pada akhirnya akan kembali menjadi seorang istri yang hanya berkutat pada persoalan domestik (rumah tangga), bukan pada persoalan publik yang membutuhkan kemampuan intelektual. Persoalan domestik kala itu hanyalah berkaitan dengan memasak di dapur untuk makan suaminya, mengurus  anak-anak, dan melayani suami di tempat tidur.
Secara politis kondisi  ini juga sengaja diciptakan dan dibiarkan oleh pemerintah kolonial Belanda ketika itu agar masyarakat tidak memiliki kemampuan dan wawasan luas sehingga mereka terus menerima kondisi terbelenggu oleh penjajah. Atau dengan istilah lain sengaja dibodohkan.
Pertanyaannya adalah nilai-nilai apa yang bisa diambil dari perjalanan dan perjuangan hidup Kartini bagi generasi muda (terutama siswa-siswi di sekolah) sekarang ini.
Paling tidak ada tiga nilai positif yang dapat diteladani dari perjalanan hidup Kartini. Pertama, keberanian untuk melawan hegemoni kekuasaan ”istana”. Dibutuhkan keberanian dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Sekarang ini, manusia dihadapkan pada berbagai pilihan hidup yang sangat komplek yang membutuhkan keberanian untuk menghadapinya.
Seorang manusia tidak mungkin berhasil ketika tidak memiliki keberanian untuk mengambil sikap. Takut merupakan musuh mereka yang memiliki cita-cita besar sebagaimana yang diimpikan oleh Kartini. Kartini berani melawan  kekuatan ”istana” dan kaum bangsawan demi memperoleh hak dan kewajiban yang sama antara kaum laki-laki dan perempuan.
Kedua, upaya emansipasi (persamaan hak dan kewajiban) wanita dengan laki-laki. Kartini menuntut adanya kesetaraan gender. Emansipasi merupakan kondisi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam segala aspek kehidupan. Tuhan menciptakan manusia dalam kondisi yang sama. Tidak ada perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan di mata Tuhan. Hanya ketakwaan yang membedakannya. Itulah yang diperjuangkan oleh Kartini.
Sekarang ini, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin pesat, dan dinamika sosial yang sangat komplek, masih sering kita mendengar adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, ada saja perusahaan yang membedakan peran dan fasilitas yang diberikan kepada karyawannya hanya berdasarkan pertimbangan gender, bukan karena pertimbangan kompetensi yang dimilikinya. Tentu hal ini seharusnya tidak perlu terjadi jika kita menghayati perjuangan yang dilakukan Kartini.
Ketiga, berani berkorban. Kerelaan untuk berkorban demi orang lain adalah sesuatu  yang sangat mulia. Sekarang ini, sikap mementingkan kepentingan orang lain  sudah menjadi hal yang langka. Orang cenderung egois, artinya  hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Egoisme  semakin terasa dalam kehidupan perkotaan, di mana orang sangat sibuk dengan kesibukannya masing-masing sehingga cenderung acuh terhadap orang lain, sekalipun tetangganya yang berada di sebelah rumahnya.
Ketiga hal itulah barangkali yang harus ditanamkan pada anak-anak kita dalam momentum peringatan Hari Kartini tahun ini.
Selamat Hari Kartini, semoga kita bisa menjadi ”Kartini” di masa kini.
oleh Abdul Wahid
dimuat di H.U. Pikiran Rakyat, 20 April 2011

Label:

Selasa, 04 Januari 2011

TAHUN BARU, SEMANGAT BARU


Tidak terasa tahun 2010 telah meninggalkan kita semua, rasanya baru kemarin kita berada di tahun tersebut. Begitu cepatnya waktu  meninggalkan kita, dan sekarang kita berada pada  tahun 2011. Setiap kita mungkin akan bergumam dalam dirinya, masih banyak pekerjaan  yang belum terselesaikan atau bahkan belum mulai dikerjakan, tapi sang waktu tidak kenal kompromi untuk terus bergerak  meninggalkan.
Beragam kejadian  selama 2010 tentu sudah dirasakan. Ada  yang menyenangkan dan ada juga yang menyedihkan. Ada yang bikin bangga, ada  juga yang bikin malu untuk mengingatnya. Ada pahala dan  ada pula dosa yang di perbuat. Semuanya menjadi  peristiwa masa lalu yang tersimpan dalam ruang memori kita semuanya.
Tahun yang baru sudah menghampiri, ia mengajak untuk ”digauli” dengan pergaulan yang lebih baik dari sebelumnya. Ia mengharapkan prestasi yang luar biasa, yang mampu menjadi kebanggaan keluarga, masyarakat bahkan bangsa ini. Bukan sebaliknya, perilaku negatif yang menyimpang, yang bikin malu lingkungan dan masyarakat.
Beragam peristiwa sosial, politik, budaya, dan keagamaan yang terjadi seyogyanya menjadi acuan dalam melangkah selanjutnya. Penulis tidak akan menyebutkan kejadian-kejadian yang terjadi, silahkan kita inventarisir sendiri peristiwa apa yang dalam kapasitas kepentingan kita memiliki nilai dan pengaruh besar bagi kehidupan.
Setiap orang tentu berbeda dalam menanggapi setiap kejadian. Hal ini karena memiliki kepentingan dan orientasi yang berbeda terhadap peristiwa tersebut. Sebuah peristiwa dianggap besar bagi seseorang, tapi belum tentu bagi orang yang lain, dan begitu juga sebaliknya
Peristiwa masa lalu yang baik ataupun yang kurang baik, merupakan  sarana untuk bercermin. Dengan bercermin, manusia akan tahu bentuk mukanya, adakah  kotoran yang menempel, apakah wajahnya masih cemberut ataukah sudah manis dan enak untuk dilihat.
Kemampuan manusia untuk melihat dirinya juga diakibatkan karena ada jarak antara diri dan jiwanya. Orang tidak akan mampu untuk bercermin seandainya cermin tersebut menempel di mukanya, karena matanya akan tertutupi cermin tersebut. `Tetapi ketika ada jarak, maka ia akan mampu untuk mengamati wajahnya. Jaraknya pun  harus ideal, sebab jarak yang terlalu jauh akan menjadikan pandangan mata tidak akan jelas.
Perjalanan waktu juga bisa merubah orang untuk memiliki berbagai karakter. Ternyata, perbedaan kondisi sosial dan ekonomi seseorang itu diakibatkan  masalah pemanfaatan waktu yang berbeda-beda. Apabila malas dalam memanfaatkan waktu, maka dalam waktu dekat ia hanya akan menjadi penonton orang-orang yang sukses, dan lebih celakanya lagi, ternyata orang yang sekarang sukses tersebut dulunya adalah orang yang kita anggap biasa-biasa saja, atau bahkan di bawah kita.
Kita baru menyadari ini setelah sang waktu meninggalkan. Manusia cenderung abai dalam mengantisipasi waktu. Benyamin Franklin mengungkapkan slogan yang luar biasa, ”time is money”, waktu adalah uang. Ini slogan yang lahir di masyarakat yang menjadikan uang (materi) sebagai sesuatu yang di dewakan. Waktu yang ada diibaratkan  uang yang didewakan tersebut.
Dalam al-Qur’an pun banyak ayat yang menjadikan waktu sebagai sumpah Allah SWT, hal  ini menunjukan bahwa Allah sangat menganjurkan kepada hambanya untuk hati-hati dalam menggunakan waktu. Dan pemanfaatan waktu yang baik merupakan kunci keberhasilan manusia.
Ali Bin Abi Thalib pernah berkata, ”waktu itu bagaikan pedang, akan memenggalmu  jika  kamu tidak menggunakannya dengan baik”. Pedang akan memberikan manfaat yang besar kalau digunakan untuk hal yang benar, tetapi sebaliknya akan menimbulkan keburukan kalau digunakan untuk sesuatu yang bukan semestinya, seperti membunuh atau melukai orang. Perubahan waktu terus  berjalan, dan siap  melindas kita yang tidak mau bergerak dalam hidup ini.
Bagi remaja dan pelajar, awal 2011 adalah awal semester baru yang memiliki durasi yang lebih pendek dibandingkan dengan semester sebelumnya. Ini terjadi karena dalam semester genap siswa akan disibukan dengan agenda Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah (S) serta praktik yang lainnya.
Walaupun UN dan US dilakukan oleh siswa tingkat akhir, tapi secara otomatis akan mengganggu waktu pembelajaran kelas di bawahnya. Untuk itulah dibutuhkan semangat baru dalam belajar, sehingga target materi tetap tercapai, walaupun waktunya  lebih pendek. Bukan saatnya lagi untuk santai, kalau tidak, kita akan ketinggalan dan tergilas oleh perjalanan waktu yang tak kenal kompromi.
Tahun 2011 sudah menghampiri dan mengajak kita untuk mengisiya dengan hal-hal yang baik. Kejadian yang lalu, yang menunjukan prestasi yang kurang baik, lupakanlah!. Marilah kita isi tahun baru ini dengan semangat baru, sehingga mampu menghasilkan prestasi yang lebih baik lagi.
Selamat tahun baru 2011 M!
(Oleh Abdul Wahid)

Label:

Sabtu, 09 Oktober 2010

Ada Ketidakadilan Dalam Tes Keperawanan

Salah satu topik menarik yang ramai dibicarakan oleh media dalam minggu-minggu belakangan ini adalah wacana tes keperawanan bagi anak-anak perempuan yang akan masuk ke jenjang pendidikan SMP atau SMA. Di beberapa daerah, sebut saja propinsi Jambi, hal ini diwacanakan oleh anggota dewan. anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jambi, Bambang Bayu Suseno. Ia mengatakan bahwa kalau semuanya sepakat maka ide ini akan diubah menjadi raperda dan pada akhirnya menjadi perda (peraturan daerah).

Tes ini dilakukan dengan cara mengecek keperawanan anak permpuan, apakah dia masih virgin (belum pernah berhubungan intim) atau tidak. Dari hasil ini kemudian dijadikan sebagai pertimbangan untuk menerima atau menolak yang bersangkutan untuk belajar di sekolah tersebut atau nantinya ia akan mendapat perlakuan khusus.
Munculnya ide ini sebenarnya berawal dari realitas sosial masyarakat kita, yang berdasarkan hasil beberapa survey, menunjukan hasil yang sangat mencengangkan, yaitu lebih dari 50 persen siswa dan siswi di tingkat SLTA pernah melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Masyarakat Indonesia yang sangat religius ini tentu bereaksi, dan diantaranya adalah dengan ide tes keperawanan bagi perempuan yang akan masuk pada jenjang pendidikan tertentu dengan maksud agar menimbulkan efek jera dan rasa takut untuk melakukan perzinahan tersebut.
Kalau sudut pandangnya perzinahan, maka, problem ini sangatlah komplek. Problem perilaku seksual menyimpang yang dilakukan sebagian masyarakat, terutama anak-anak yang masih menyandang status pelajar, sangat tidak bijak kalau kemudian hanya ditimpakan kesalahannya pada anak-anak perempuan dengan status pelajar.
Sesungguhnya anak-anak tersebut adalah korban. Korban kemajuan teknologi informasi. Korban permissivisme (ketidakacuhan akan nilai dan nirma) masyarakat. Dan yang lebih dahsyat adalah korban dari tidak adanya keteladanan dari kita selaku generasi yang lebih tua yang seharusnya mampu membina dan mengarahkan mereka dari beragam tindak penyimpangan, termasuk perilaku sex menyimpang.
Kembali pada tes keprawanan, maka pertanyaan yang muncul adalah apakah layak menjadikan tes ini sebagai pertimbangan dalam penerimaan siswa baru, padahal setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan. Kemudian, apakah jika ini betul-betul dilakukan, tidak akan menimbulkan ekses negatif bagi siswa tersebut. Inilah hal-hal yang harus dipertimbangkan masak-masak oleh para pemegang kebijakan pendidikan di negeri ini.
Menurut penulis, ada beberapa ketidakadilan yang dapat muncul dari tes ini. Pertama, namanya saja tes keperawanan, maka hanya diberlakukan kepada wanita, laki-laki tidak. Dari fakta inilah muncul tindak diskriminatif (ketidakadilan) antara laki-laki dan perempuan. Perempuan yang tidak perawan akan mendapat sanksi sosial berupa penolakan di sekolah, sementara yang laki-laki tidak mendapat hal yang serupa jika sudah tidak perjaka lagi. Disamping itu, untuk mengetes keperjakaan tentu lebih sulit dibanding ekeperawanan, karena perbedaan organ genital antara laki-laki dan perempuan.
Kedua, keperawanan merupakan sesuatu yang sangat privacy (rahasia pribadi) yang tidak pantas untuk dipublikasikan. Jika tes ini dilakukan, maka secara otomatis akan ada publikasi, semua orang akan tahu bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Jika ini terjadi maka akan menimbulkan dampak psikologis yang luar biasa pada anak. Ia akan merasa minder dalam pergaulannya dan ini melanggar HAM.
Para seksolog mengatakan bahwa ternyata tidak selalu ada hubungan antara selaput dara dengan pernah tidaknya seorang gadis berhubungan seks. Hubungan seks memang bukan satu-satunya penyebab kerusakan pada selaput dara. Berbagai aktivitas fisik seperti bersepeda serta senam lantai maupun pemasangan tampon bisa membuatnya rusak sekalipun belum pernah berhubungan badan. Pakar seksologi menilai hal ini tak hanya melanggar HAM, tapi juga membuktikan ketidaktahuan soal seksualitas.
Dan yang ketiga adalah tidak relevan dengan tujuan pendidikan nasional yang ingin menjadikan masyarakat yang baik dan berbudi pekerti. Tes ini secara langsung akan menimbulkan sebuah klaim bahwa anak tersebut adalah anak nakal yang dianggap tidak layak untuk mengikuti pembelajaran. Padahal setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan, dan pemerintah wajib untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi warga negaranya.
Sesungguhnya yang harus dilakukan bukanlah mencari siapa yang salah dan siapa yang benar pada anak-anak. Anak-anak kita, semuanya, adalah anak bangsa yang pada dasarnya baik yang harus di didik dan diluruskan sehingga mampu menjadi manusia yang beriman dan bertakwa sebagaimana yang diinginkan negara dalam tujuan pendidikan nasional.

Label:

Selasa, 24 Agustus 2010

ODONG-ODONG DAN LAGU ANAK-ANAK

Menonton acara televisi yang menampilkan lagu anak-anak sekarang ini sudah termasuk hal yang langka. Kalaupun ada anak-anak yang menyanyi di televisi, maka lagu yang mereka bawakan adalah lagu-lagu remaja dan dewasa yang tentunya mengusung tema percintaan yang tdak sesuai untuk perkembangan psikolgi anak. Berbeda dengan acara lagu anak, maka tayangan film kartun masih banyak ditayangkan oleh stasiun TV, walaupun sebenarnya juga harus dicermati untuk memilihkan film kartun yang tepat untuk anak-anak kita.

Beberapa stasiun TV swasta belakangan ini membuat acara pencarian bakat menyanyi anak. Diantaranya adalah ”Pentas Idola Cilik” yang cukup mendapat tempat di hati para pemirsanya. Sesekali penulis menemani buah hati untuk menonton acara tersebut, tetapi sungguh terasa sangat ironis, lagu-lagu yang mereka bawakan adalah lagu-lagu boyband ibukota dan penyanyi dewasa lainnya yang menyanyikan lagu-lagu cinta.

Mereka sangat mahir menyanyikan lagunya D’Masive, Peterpan, Afghan, sampai lagunya Olga Syahputra. Bahkan seolah-olah mereka sangat menghayati syairnya. Hal ini nampak dari bahasa tubuh yang mereka tampilkan. Satu hal yang menjadi catatan adalah komentar-komentar dari para panelis, yang semuanya adalah artis yang tentunya sangat berkepentingan dengan popularitas, yang memberikan pujian seolah-olah mereka adalah-anak yang sudah sangat berprestasi sesuai dengan track-nya.

Awalnya penulis membayangkan, anak-anak yang tampil di acara tersebut akan menyanyikan lagu ”potong bebek angsa”, ”balonku”, atau ”naik-naik ke puncak gunung”, dan sejenisnya. Atau paling tidak lagu anak-anak yang dipopulerkan oleh Adi Bing Slamet, Ira Maya Sofa, dan Cica Koeswoyo pada tahun 70 an, atau juga lagunya Joshua, Eno Lerian, Agnes Monica dan Dhea Trio Kwek-kwek ketika mereka masih menyandang predikat penyanyi cilik.

Itulah media, tidak berpikir positif dan negatif dari dampak acara yang ditayangkan. Yang ada adalah seberapa besar profit yang akan didapat dari program acara tersebut.

Apa kaitannya antara odong-odong dengan lagu anak-anak sebagaimana judul di atas?

Odong-odong merupakan salah satu dari hiburan anak kalangan bawah yang mobile. Ia berkeliling dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Biasanya tukang odong-odong mulai berkeliling dari pagi sampai sore hari, dengan targetnya adalah anak-anak usia balita, bahkan ada juga yang usia SD masih suka naik odong-odong.

Odong-odong sebenarnya adalah mainan sejenis mobil-mobilan dengan beragam bentuknya, ada yang berbentuk bebek, singa, harimau, pesawat dan lainnya yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa berputar, naik turun, dan juga melingkar seperti ’korsel’. Penggeraknya biasanya adalah manual atau dengan menggunakan kaki atau tangan untuk mengayuh rantai yang dikaitkan dengannya.

Sebenarnya odong-odong ini sama dengan beberapa mainan yang kita temukan di pusat perbelanjaan, semacam kidzone atau timezone. Bedanya, mainan di kidzone digerakan oleh mesin  dengan memasukan koin. Sedangkan odong-odong digerakan secara manual dengan menggunakan tangan dan kaki.

Satu hal yang menarik adalah ketika odong-odong ini beroperasi, maka mereka selalu mengiringinya dengan lagu anak-anak, bahkan ada juga yang memutar lagu perjuangan atau nasional.

Lagu anak-anak yang diputar menjadi ciri khas tersendiri bagi odong-odong, sekaligus menjadi daya tarik sehingga anak-anak cenderung untuk naik.

Fenomena odong-odong ini paling tidak harus dijadikan sebagai perhatian bagi kita sebagai orang tua, pendidik, masyarakat dan tentunya pemerintah yang tidak ingin kehilangan jati diri anak-anak dan genersai muda kita, termasuk di dalamnya adalah perhatian terhadap lagu anak yang seharusnya menjadi hiburan dan ajang mengekspresikan jiwa mereka.

Sejatinya, odong-odong adalah sebuah bentuk kritik sosial. Di mana sekarang ini, nilai-nilai edukasi terkalahkan oleh nilai-nilai komersil dan kapitalis yang hanya mementingkan materi Media massa dan pelaku industri musik tidak lagi memihak pada kepentingan anak-anak yang membutuhkan hiburan berupa lagu yang layak dan cocok untuk mereka.

Mereka lebih mementingkan keuntungan daripada idealisme. Ketika yang sedang ramai boyband dan lagu pop dewasa, maka jenis itulah yang selalu diproduksi. Tanpa memikirkan bahwa anak-anak juga membutuhkan hiburan berupa lagu-lagu anak yang sesuai dengan tahapan psikologinya.

Jadinya seperti sekarang ini, dimana anak-anak kita yang masih balita lebih mahir nyanyi lagu remaja dan dewasa dari pada lagu anak. Sungguh sangat ironis. Pemerintah, sebagai pengendali regulasi penyiaran, seyogyanya memberi perhatian terhadap acara lagu anak-anak di media massa. Misalnya dengan mewajibkan stasiun TV untuk menyiarkan lagu anak-anak. Dan masyarakat pun harus ikut mengawasi dan memberikan masukan agar lagu anak tetap lestari.

Semoga kita menjadi orang tua, pendidik, dan masyarkat yang mampu memberikan hak anak dengan baik sesuai dengan perkembangan jiwa mereka.

Terima kasih Mang odong-odong!

Label:

Selasa, 06 April 2010

Kawanku di Program Magister IAIN Walisongo Semarang 2007

 







DAFTAR NAMA KELAS PAI SMA
PESERTA PROGRAM BEASISWA PPS 
IAIN WALISONGO SEMARANG 2007

1 Abdul Wahid; Komplek Griya mitra Blok D5/9 Cinunuk Cileunyi Bandung Jawa Barat   087821245421
2 Ahmad Kholiq; Wedarejaksa, RT. 4/ V Pati Jawa Tengah 081326480558
3 Al Bahri; Jl Sukarno hatta RT. 12 RW. 3 Anggut Atas 11 Bengkulu 081919381495
4 Bahnur Damau; Jl. Brigjen Katamso, 397, SMAN 5 Kendari Sulawesi Tenggara 081341712662
5 Debi Muzdalifah; Jl. Krajan RT. 0/RW.02 Bumi Ayu Jawa Tengah 085227626123
6 Diding Darmudi; Jl. Sukarindik No. 1 Rt. 1 RW. 1 Tasikmalaya Jawa Barat 081511668765
7 Iqbal Mustofa; Jl. Sumbang Jaya No 50, Tasikmalaya Jawa Barat 08522303235
8 M. Irfan Sa’roni; Jl. Giok 3 Blok N No. 19 BTN BSA Midang, Gunung Sari, Lombok Barat, NTB.    081803650521
9 Yasak; Jl. KH. Musawir, Banlapah, Bragung, Guluk-Guluk Sumenep Madura Jatim 081703246966
10 Miftahol Arifin; Jl. KH. Nafi’I No 11, Kampak, Geger, Bangkalan, Madura, Jawa Timur 0817593826
11 Miftahurroqib; SMK Hasan Kafrawi, Pancur Mayong, Jepara, Jawa Tengah. 081325519660
12 Misra; Desa Balai diateh, No. 190, Jorong III Songayang Batu Sangkar, Sumatra Barat 081374264665
13 Moh. Nur Wahid; Jl. Giri Kusumo, Merangyeng, Demak, Jawa Tengah 02470122732
14 Muhamad Mukhlis; RT. 1 RW. 3 dusun Selatan, Desa Tales, Kecamatan Ngadiluweh, Kediri, Jatim 081335025445
15 Mufassiroh; Samborjo RT. 2 RW. 5 Tirto, Pekalangon, Jawa Tengah. 081548146078
16 M. Anas; Komplek BTN, Sompa Panrita bola 2, Blok D 17, Kabupaten Bulu Kumba, Sul-Sel 08124190758
17 Mujtahidin; Rawa Makmur prin gasek, Lombok Timur, NTB 08123738749
18 Muhtar; Cimangges 01/01 Mekarwangi Tanah Sarea Bogor, Jawa Barat. 081513962262
19 Munirul Ihwan; Jl. Cempaka Putih L 18, No. 841 Srijaya Sukarame, Palembang, Sumatra Selatan. 08127326079
20 Muzni; Giri Kusumo, RT. 1 RW. 3 Meranggen Demak, Jawa Tengah. 081325623888
21 Nur Rifa’i; Jl. Mangga IV, No. 20 Semarang Jawa Tengah. 0248419317
22 Ooh; Perum Kemuruh, Blok E No. 2 Banjar Negara, Jawa Tengah 081327197234
23 Rosni Jamilah; Pasarmaga, Lembah Sore Merapi, Mandeling Natal, Sumatra Utara. 085276019378
24 Rudi Irawan Z; Jl. Makmun Iza, Gang Husen No 18, Kuripan, Bandar Lampung. 081957206725
25 Siti Badriyah; Jl. Bengawan Solo, No. 37 Kebon Dalem Pemalang, Jawa Tengah . 081542312373
26 Siti Nur Afni Pasisingi; Jl. Kancil No. 9 Kelurahan Bulide, Kecamatan Kota barat, Kota Gorontalo 085256207929
27 Sudarkajin; Jl. Raya Brangkal, 989 Kedung Maling. Soko, Mojokerto, Jawa Timur 085648411419
28 Sugiyanto; Jl. Raya Kepala Desa Aeng Deke, Bloto, Sumenep. 08175035225
29 Suherman; Dusun Selawi, RT 1, RW 7, Rancakalong, Sumedang, Jawa Barat. 085221594507
30 Suparman;  RT. 5 Bukit Pinang No. 9, Samarinda, Kalimatan Timur. 08164513861

Label: