Sabtu, 17 Juli 2010

AL – HAKIIM

Dalam Al-Quran kata hakiim terulang sebanyak 97 kali dan pada umumnya mensifati Allah swt. Ada dua hal lain yang menyandang sifat “hakim”, yaitu kitab suci Al-Quran dan ketetapan Allah SWT. (M. Quraish Shihab, 2000).

Al-Hakim dipahami oleh sementara ulama sebagai “Yang Memiliki Hikmah”, sedangkan hikmah antara lain berarti mengetahui yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan.

Hakim merupakan satu bentuk superlatif (bentuk kata yang menyatakan paling), satu bentuk pemuliaan dan pengagungan terhadap Dia Yang memiliki segenap kearifan. Karena itu, al-Hakim adalah yang paling arif. Allah sangat arif dalam menciptakan segala sesuatu dan dalam menyempurnakan ciptaan-Nya.

Dalam institusi yudikatif di Indonesia dikenal istilah hakim, yaitu orang yang berhak untuk memutuskan suatu perkara di pengadilan. Penggunaan istilah ini mengindikasikan bahwa seorang hakim adalah orang yang dapat berlaku bijak, arif dan memiliki hikmah sehingga ia tidak akan terpangaruh dalam memutuskan suatu perkara sebagaimana sifat al-Hakim yang dimiliki oleh Allah SWT..

Kearifan Allah mengandung arti bahwa Dia sudah tahu sebelumnya tentang segala sesuatu, dan Dia mewujudkan segala sesuatu dengan sangat arif dan sempurna. Arti kearifan adalah cara terbaik untuk mengetahui sesuatu, dan dengan menggunakan sebaik-baik sarana.

Sebagian ulama mengatakan bahwa al-Hakim adalah Yang adil dalam Penilaian-Nya, penuh kebaikan dalam mengelola urusan, Dia yang menetapkan ukuran (qadar) segala sesuatu, Dia yang kearifan-Nya merupakan tujuan paling akhir. Dia yang menempatkan segala sesuatu di tempatnya yang tepat. Tak ada yang benar-benar dapat memahami atau menilai kearifan Allah dengan benar kecuali Allah Ta`ala sendiri. Al-Hakim tak pernah mementingkan kepentingan sendiri. Tak ada yang dapat menolak apa pun yang dilakukan-Nya.

Al-Hakim berhiaskan kearifan. Sedangkan kearifan adalah yang paling tahu banyak hal melalui sebaik-baik sarana. Yang terbaik di antara segala sesuatu adalah Allah. Jadi Allah adalah al-Hakim Mutlak.

Kalau kita mau meneladani sifat al-hakim yang dimiliki Allah, maka kita akan arif. Kearifan ini akan nampak ketika kita berbuat baik, maka itu kita lakukan dengan sebaik mungkin, sehingga orang akan merasa senang melihat kondisi kita, karena perbuatan kita semata-mata demi menjalankan perintah Allah dan demi menjauhkan diri dari apa saja yang dilarang Allah.

Rasulullah saw. bersabda, “Puncak kearifan adalah takwa kepada Allah”. Orang yang arif adalah orang yang mengajukan dirinya sendiri sebagai ”terdakwa”, artinya ia mencoba untuk berintospeksi terhadap dirinya sebelum mencari kelemahan orang lain. Orang yang arif juga selalu berupaya mengetahui apa yang akan terjadi setelah mati. Upaya ini akan menjadikan ia giat dalam menjalankan berbagai ibadah dan perintah Allah lainnya.

Sebagai kebalikan dari kearifan adalah orang yang lemah pikirannya, yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak mau berfikir jauh tentang kejadian yang akan terjadi sesudah kematian, namun demikian ia masih saja menuntut lebih dari Allah akan berbagai kenikmatan dunia.

Mudah-mudahan kita mampu meneladani sifat al-hakim yang dimiliki Allah SWT. amiin.

Label:

Rabu, 09 Juni 2010

Al-'Adlu

Para ahli tafsir mendefinisikan istilah adil sebagai menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Ada juga yang menyatakan bahwa adil adalah memberikan kepada pemilik hak, haknya, melalui jalan yang terdekat. `Adil juga bermakna pertengahan, moderasi, lurus, adil, sama.

Allah memiliki sifat Al-`Adl, artinya Allah bebas dari penindasan, atau bebas dari ketidakadilan dalam keputusan dan perbuatan-Nya. Dia justru memberikan kepada siapa pun apa yang menjadi haknya, dan meletakan segala sesuatu pada tempatnya yang benar.

Dalam Al-Quran banyak ayat yang memerintahkan agar manusia berlaku adil dalam menghadapi berbagai perkara, sebagaimana yang dilakukan oleh Allah kepada mahlukNya, diantaranya adalah surat An-Nisaa: 58, yang memerintahkan agar adil ketika menetapkan suatu hukum.

Keadilan dalam memutuskan suatu perkara adalah bagian tak terpisahkan dari sifat amanah. Islam mengajarkan bahwa amanah (kepercayaan) adalah asas keimanan dalam beragama. Nabi SAW. bersabda: “Tidak ada iman bagi yang tidak memiliki amanah.” Artinya salah satu parameter keberimanan seorang muslim adalah sejauhmana ia mampu menjalankan amanah yang ia pikul.

Amanah juga merupakan satu dari empat sifat wajib yang ada pada diri seorang rasul. Dengan sifat amanahnya, para rasul adalah orang yang sangat dapat dipercaya oleh umatnya, sehingga tidak ada sedikitpun celah untuk mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa oleh mereka.

Ketika manusia melakukan ketidakadilan, maka akan ada orang yang teraniaya atau terdzalimi. Nabi saw. mengajarkan agar kita hati-hati terhadap orang yang di dzalimi. Beliau bersabda: “Berhati-hatilah! Doa orang yang teraniaya diterima Allah, walaupun dia durhaka, (karena) kedurhakaannya dipertanggungjawabkan oleh dirinya sendiri” (HR. Ahmad dan al-Bazzar melalui Abu Hurairah).

Allah swt. adalah Tuhan Yang Maha Adil dan Bijaksana terhadap semua hamba-Nya, karena Allah swt. tidak mempunyai kepentingan apa-apa dari perbuatan yang dilakukan oleh hamba-hambaNya.

Jika manusia berbuat kebaikan, maka tidak akan mempengaruhi Kemahaadilan-Nya. Demikian juga jika manusia berlaku dzalim kepada-Nya, maka itupun tidak akan mengurangi Kemahaadilan-Nya. Apa yang diperbuat oleh manusia, apakah kebaikan atau kelaliman, hasilnya akan diterima oleh manusia itu sendiri.

Dalam Q.S. Fushshilat: 26 Allah menjelaskan: ”Barang siapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.”

Sebagai sifat Allah, Al-’Adl menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan yang seadil-adilnya, tidak memihak kepada siapa pun dalam mengambil keputusan, sehingga, “…tidak ada orang yang dirugikan sedikitpun, dan akan memperoleh balasan sesuai dengan perbuatan yang pernah dilakukan,” (QS. Yasin: [36]: 54). Keadilan Allah akan Dia perlihatkan ketika di dunia ini juga di akhirat kelak.

Semoga kita mampu menjadi orang yang dapat berlaku adil, sebagai upaya meneladani sifat Al-’Adlu yang dimiliki Allah SWT., amiin.

Label:

Sabtu, 22 Mei 2010

Meneladani Sifat Allah

Allah SWT. memperkenalkan diri-Nya dalam al-qur’an dengan banyak nama, atau dikenal dengan asma’ul husna (nama-nama yang baik). Dengan memperhatikan nama-nama Allah, kita mengenal dua “wajah” Allah. Pertama, kita sebut dengan “wajah” jalal-Nya, yakni nama yang menunjukan kebesaran-Nya, Kemahaperkasaan-Nya, dan kekuatan-Nya untuk memaksa hambaNya.

Sedangkan “wajah” yang kedua disebut dengan “wajah” jamal-Nya, yakni nama-nama yang mengandung kasih sayang-Nya, cinta-Nya dan kelembutan-Nya.

Dua wajah Allah ini selanjutnya dijelaskan oleh para sufi (ahli tasawuf) sebagai berikut; Pertama, jalaliyah Allah itu berkaitan dengan Dzat Allah, dan Dzat Allah adalah sesuatu yang tidak boleh digambarkan dan dibayangkan oleh manusia. Karena itu dalam Al-Qur’an sering digunakan ungkapan subhanallahi ta’ala ‘amma yashifun (Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan dan bayangkan).

Diantara asma Allah yang termasuk dalam jalaliyah adalah; ar-Rabb (Maha Pencipta lagi Pemelihara), al-Jabbar (Maha Perkasa), dzil-Jalal (Yang Memiliki Keagungan), al-Kabir (Yang Maha Besar) dan sebagainya.

Kedua, ”wajah” Jamal Allah, yaitu yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah, dan diantara sifat-sifat Allah yang jamaliyah itu adalah ar-Rahman (Mahakasih), ar-Rahim (Mahasayang), ar-Razaq (Maha Memberi Rizki), al-Hafidz (Mahamemelihara), dan lainnya. Kalau dalam jalaliyah kita harus membersihkan dari bayangan tentang Allah, maka dalam jamaliyah kita harus melakukan tasybih, yaitu meniru sifat Allah, atau disebut dengan takhalluq bikhuluqillah (berakhlak dengan akhlak Allah).

Allah Maha memberi rizki kepada hambaNya tanpa mengharap imbalan misalnya, maka prinsip memberi tanpa pamrih ini harus selalu dikembangkan dalan kehidupan sehari-hari seorang muslim. Perilaku ini pada hakikatnya merupakan bentuk dari tasybih (duplikasi/meniru) terhadap sifat-sifat Allah SWT. yang terdapat dalam asma’ul husna.

Allah SWT. bersifat Al-Wahhab, Al-Fattahu, dan Al-‘Alimu, ketiganya merupakan pancaran dari sifat Allah yang Maha Pemberi, Maha Pembuka dan Ilmu-Nya Maha Menjangkau. Maha Memberi walaupun hambanya tidak memintanya. Allah SWT memberi berulang kali tanpa mengharap imbalan, baik di dunia maupun di akhirat.

Begitulah gambaran sederhana, betapa Allah SWT Maha Memberi kepada hambanya. Jika demikian, pertanyaannya adalah dapatkah manusia meneladani sifat Allah tersebut?

Tentu dapat. Yang bisa kita teladani dari sifat ini adalah semangat untuk memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa vested interested (pamrih), yaitu semangat untuk memberi tanpa mengharap penghargaan dan penghormatan dari orang lain. Ia melakukan sesuatu karena tuntutan hati nurani dan semata-mata karena Allah SWT. Dan seandainya kita berfikir jernih, maka pada hakikatnya yang kita berikan kepada orang lain akan kembali kepada si pemberi, baik disadari ataupun tidak.

Akhirnya, usaha manusia sebagai hamba untuk meniru sifat jamaliyah Allah SWT. merupakan bentuk kesungguhan manusia untuk menjadi ‘abid yang baik. Usaha meniru ini tentunya tidak akan sama dengan sifat asli yang dimiliki Allah SWT., akan tetapi yang penting adalah semangat untuk meneladani apa yang Allah SWT. perbuat terhadap mahluk-Nya.

Semoga kita bisa menjadi hamba yang sesuai dengan apa yang rasul anjurkan untuk takhallaqu bikhuluqillah (berakhlak dengan akhlak Allah), amiin ya rabbal alamin.

Label: